Penulis: Isti Dwi Pruschia – Mahasiswa Doktoral Farmasi Universitas Islam Indonesia; Dosen Universitas STRADA Indonesia
DAILY NUSANTARA, OPINI – Peter Higgs, fisikawan penemu partikel yang menyandang namanya, pernah mengaku tak akan lolos menjadi dosen di iklim akademik hari ini: publikasinya terlalu sedikit. Pengakuan seorang peraih Nobel itu membuka luka yang lebih dalam. Sains kita kian banyak, kian cepat, kian terukur, tetapi apakah kian bijak?
Sejarah menawarkan cermin, bukan dongeng. Franz Rosenthal menyebut ‘ilm sebagai konsep paling menentukan dalam peradaban Islam, dan para polymath seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd menulis lintas bidang, dari kedokteran hingga etika; Ibnu Sina bahkan merumuskan kaidah menguji khasiat obat dalam al-Qanun.
Namun sains alam tak selalu disambut ortodoksi. Data Eric Chaney atas ribuan buku di perpustakaan Harvard konsisten dengan kemunduran: proporsi karya sains menyusut sekitar separuh sejak abad ke-12, seiring menguatnya madrasah yang mengalirkan sumber daya ke ilmu agama. Sejarawan masih memperdebatkan sebabnya, tetapi pesannya jelas: nasib sains ditentukan institusi dan insentif, bukan semata kadar keimanan.
Dunia modern mengalami patah sayap versi lain. Ilmu dipisahkan dari nilai lewat is-ought split: sains melaporkan apa yang ada, sedangkan apa yang seharusnya ada dianggap urusan privat. Di bangsal rumah sakit, jarak itu nyata: uji klinis menyatakan sebuah obat menurunkan tekanan darah, tetapi apakah ia layak bagi pasien lansia dengan polifarmasi dan biaya terbatas tak dapat dijawab oleh nilai p.
Positivisme menyempurnakan pembagian kerja ini, dan lahirlah rasionalitas instrumental yang cakap menjawab “bagaimana” tetapi bisu soal “untuk apa”. Alam dicincang menjadi mekanisme dan sumber daya, sehingga krisis biosfer dan keterasingan manusia menjadi harga yang tak tercatat. Ketika tujuan tak lagi ditanyakan, pasar mengisinya. Edwards dan Roy mencatat bagaimana metrik publikasi dan sitasi melahirkan banjir makalah dangkal dan ilmuwan yang sibuk menjajakan hasil risetnya.
Metafora Tangga Sulaiman membantu membacanya: ilmu, kedudukan, harta. Ilmuwan sejati menapak dari ilmu; yang lain menjadikannya tangga menuju kedudukan dan harta. Riset Alice Lam menunjukkan bahwa motivasi ilmuwan masih ditopang kepuasan memecahkan “teka-teki” dan reputasi, sementara uang berperan kecil; ilmuwan hayati yang ia wawancarai bahkan bicara tentang obat baru bagi mereka yang tak tertolong. Jadi tangga itu belum runtuh di batin ilmuwan; yang timpang adalah sistem yang mengganjar. Persoalannya struktural, bukan sekadar moral perorangan.
Thomas Kuhn memberi kerangka analogis. Dalam teorinya, anomali adalah kegagalan paradigma memecahkan teka-teki ilmiahnya, dan krisis yang menumpuk memicu revolusi. Krisis ekologis dan rapuhnya kepercayaan pada integritas riset memang bukan anomali Kuhnian dalam arti sempit, tetapi menandai paradigma yang gagal memenuhi janji kemajuannya. Maka dibutuhkan rekonstruksi, bukan reproduksi, kata Mozaffari: berorientasi ke depan, memelihara unsur perenial masa lalu, dan menuntut invensi. Menyalin Baghdad abad kesembilan sama sia-sianya dengan meniru laboratorium Barat tanpa jiwanya.
Rekonstruksi itu dapat bertumpu pada tiga pilar ilmu. Secara ontologis, realitas mencakup yang tampak dan tak tampak; secara epistemologis, pengetahuan lahir dari pendengaran, penglihatan, dan hati; secara aksiologis, ilmu bermuara pada kemaslahatan. Al-Jabiri membedakan nalar bayani, burhani, dan irfani, bahkan mencurigai yang terakhir.
Karena itu integrasi bukan mencampur metode, melainkan membagi kerja: burhan, yakni bukti dan logika, tetap menjadi hakim validitas klaim empiris, sedangkan nilai dan hikmah menuntun arah riset sebelum dan sesudah pembuktian, yakni apa yang layak diteliti dan untuk siapa hasilnya dipakai. Dallal mengingatkan bahwa ilmuwan masa keemasan tak mengawinkan sains dan agama secara paksa; sains integralistik dan transdisipliner pun harus menjaga otonomi itu. Watak ulul albab, yang berpikir sekaligus berzikir, menjadi kompasnya.
Peradaban hanya dapat terbang dengan dua sayap: ilmu dan hikmah. Tanpa ilmu, hikmah menjadi nostalgia; tanpa hikmah, ilmu menjadi mesin tanpa arah. Farmasis klinis mengenalnya di sisi tempat tidur pasien: dosis yang tepat belum tentu pelayanan yang adil. Pertanyaan bagi kampus bukan lagi berapa banyak kita menerbitkan, melainkan untuk siapa dan demi keadilan apa kita meneliti.





