Artificial Intelligence (AI) bukan lagi gambaran tentang masa depan. Teknologi ini sudah hadir dalam berbagai aktivitas manusia, mulai dari mencari informasi, menyusun tulisan, menerjemahkan bahasa, menganalisis data, hingga membantu pekerjaan profesional. Kehadiran AI membuat banyak hal menjadi lebih cepat dan efisien. Namun, menurut saya, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi apakah manusia mampu menggunakan AI, melainkan apakah manusia mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, berkreasi, berempati, dan bertanggung jawab.

Perubahan tersebut semakin terasa dengan hadirnya AI generatif yang dapat menghasilkan teks, gambar, suara, video, dan berbagai bentuk konten digital. Bagi mahasiswa, misalnya, AI dapat menjadi alat bantu untuk memahami materi yang sulit, menemukan ide awal, memperbaiki struktur tulisan, atau memperoleh penjelasan dengan bahasa yang lebih sederhana. Dalam dunia kerja, AI dapat membantu mengolah data, membuat ringkasan, mendukung pelayanan, dan mempercepat pekerjaan yang bersifat rutin. Manfaat tersebut menunjukkan bahwa AI memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas manusia.

Akan tetapi, kemudahan tidak selalu berarti kemajuan apabila manusia menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Ketika hampir semua persoalan langsung diserahkan kepada AI, ada risiko manusia kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir dan menyelesaikan masalah secara mandiri. Dalam pendidikan, misalnya, mahasiswa dapat saja memperoleh jawaban tugas dalam waktu singkat, tetapi belum tentu memahami proses berpikir di balik jawaban tersebut. Padahal, tujuan belajar bukan hanya menghasilkan jawaban, tetapi membangun kemampuan memahami, menganalisis, mempertanyakan, dan menyimpulkan.

Di sinilah konsep Society 5.0 menjadi penting. Society 5.0 tidak semata-mata menggambarkan masyarakat yang semakin canggih dalam menggunakan teknologi. Konsep ini menekankan pemanfaatan teknologi untuk menyelesaikan persoalan masyarakat dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Artinya, teknologi seharusnya menjadi sarana, bukan tujuan akhir. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tetap harus menjadi pusat dari keputusan dan pemanfaatannya.

Dalam pandangan tersebut, AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu yang memperkuat kemampuan manusia. AI dapat memberikan rekomendasi, mengolah informasi, dan membantu menemukan pola dari data, tetapi keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia. Hal ini penting karena hasil AI tetap memiliki keterbatasan. Informasi yang disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan belum tentu benar, lengkap, atau sesuai dengan konteks. Karena itu, setiap hasil AI perlu diperiksa, dibandingkan dengan sumber yang dapat dipercaya, dan dipertimbangkan kembali sebelum digunakan.

Kemampuan untuk memeriksa dan mempertanyakan hasil AI merupakan bagian dari human literacy. Di era teknologi yang semakin maju, manusia tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis untuk mengoperasikan perangkat digital. Manusia juga perlu memahami dirinya sendiri, memahami orang lain, berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis, serta mempertimbangkan dampak dari penggunaan teknologi. Semakin mudah teknologi menghasilkan informasi, semakin penting kemampuan manusia untuk menilai apakah informasi tersebut benar dan layak digunakan.

Selain berpikir kritis, kecerdasan emosional juga tidak boleh kehilangan tempat. AI dapat membantu memberikan informasi, tetapi hubungan antarmanusia membutuhkan empati, kepedulian, komunikasi interpersonal, dan kemampuan memahami perasaan orang lain. Dalam lingkungan kerja, misalnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga oleh kemampuan bekerja sama, memahami rekan kerja, memberikan pelayanan dengan baik, dan mengambil keputusan yang mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Aspek-aspek tersebut tidak seharusnya dikorbankan hanya demi mengejar efisiensi.

Persoalan etika juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan AI. Pengguna perlu memperhatikan kejujuran, privasi, hak cipta, keamanan data, dan tanggung jawab atas informasi yang digunakan. Menggunakan AI untuk membantu menyusun gagasan berbeda dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin lalu mengakui hasilnya sebagai karya pribadi. Begitu pula memasukkan dokumen pekerjaan atau data penting ke dalam sistem AI tanpa mempertimbangkan keamanan dapat menimbulkan risiko bagi individu maupun organisasi.

Tantangan lainnya adalah kesenjangan digital. Tidak semua orang memiliki perangkat, koneksi internet, kemampuan digital, dan kesempatan belajar teknologi yang sama. Jika perkembangan AI tidak diikuti dengan pemerataan akses dan peningkatan literasi, manfaat teknologi justru dapat dinikmati oleh kelompok tertentu saja. Karena itu, kemajuan menuju Society 5.0 harus dibarengi dengan upaya agar masyarakat memiliki kesempatan yang lebih adil untuk memahami dan memanfaatkan teknologi.

Menurut saya, ukuran keberhasilan AI bukan sekadar seberapa banyak pekerjaan manusia yang dapat digantikan atau seberapa cepat suatu pekerjaan selesai. Ukuran yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut membuat manusia menjadi lebih mampu, lebih produktif, lebih kreatif, dan lebih sejahtera tanpa menghilangkan nilai kemanusiaannya. AI yang baik adalah AI yang membantu manusia bekerja lebih baik, belajar lebih efektif, dan mengambil keputusan dengan informasi yang lebih memadai.

Pada akhirnya, manusia tidak perlu melihat AI sebagai lawan. Tantangannya adalah membangun hubungan yang sehat antara manusia dan teknologi. Manusia memiliki kemampuan yang tidak dapat direduksi hanya menjadi kecepatan memproses data, yaitu pengalaman, empati, moralitas, kreativitas, tanggung jawab, dan kemampuan membangun hubungan sosial. Karena itu, semakin canggih teknologi yang kita gunakan, semakin besar pula kebutuhan untuk memperkuat sisi kemanusiaan.

Era Society 5.0 seharusnya menjadi era ketika teknologi hadir untuk memperbaiki kehidupan, bukan membuat manusia kehilangan kendali atas kehidupannya sendiri. AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat apabila digunakan secara kritis, etis, dan bertanggung jawab. Masa depan bukan tentang manusia melawan teknologi, melainkan tentang manusia yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijaksana. Pada titik inilah humanisme menjadi penting: teknologi boleh berkembang tanpa batas, tetapi nilai kemanusiaan harus tetap menjadi batas dan arah penggunaannya.

Identitas Penulis

Urija Rifqi Hakim

Program Studi PJJ Manajemen, Universitas Siber Asia