Oleh: Heri Nuryanto – Mahasiswa Universitas Siber Asia

Daily Nusantara, Opini – Transformasi digital telah mengubah wajah pelayanan publik di Indonesia. Berbagai kementerian dan lembaga kini berlomba menghadirkan layanan berbasis aplikasi agar masyarakat tidak lagi harus mengantre panjang atau berulang kali datang ke kantor pemerintah. Salah satu wujud nyata dari transformasi ini adalah Aplikasi Cek Bansos yang dikelola Kementerian Sosial (Kemensos). Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengecek status kepesertaan bantuan sosial seperti PKH dan BPNT secara mandiri, mengusulkan diri sendiri atau warga lain yang dinilai layak menerima bantuan, hingga menyanggah data penerima yang dianggap sudah tidak tepat sasaran.

Kehadiran fitur Usul dan Sanggah ini menjadi penanda bahwa digitalisasi pelayanan publik tidak lagi sekadar memindahkan proses manual ke layar ponsel, tetapi juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat. Informasi mengenai status bantuan yang dahulu harus ditanyakan lewat perangkat desa atau kelurahan, kini dapat diakses kapan saja secara transparan. Namun, di balik kemudahan teknis tersebut, muncul pertanyaan yang lebih mendasar.

Apakah digitalisasi pelayanan publik hanya menghadirkan kemudahan, atau juga mampu membuat masyarakat merasa lebih dihargai?

Pelayanan Publik yang Memanusiakan Masyarakat

Kualitas pelayanan publik kerap diukur dari kecepatan proses, kemudahan akses, atau efisiensi birokrasi. Namun ukuran-ukuran tersebut belum cukup menggambarkan pelayanan yang baik secara utuh. Pelayanan yang baik juga memberi rasa dihargai kepada penerimanya, bukan sekadar memenuhi standar operasional yang efisien di atas kertas. Dalam pandangan ini, masyarakat tidak semestinya diposisikan hanya sebagai objek dari kebijakan yang dijalankan pemerintah, melainkan sebagai subjek yang aktif dan berhak dilibatkan dalam proses pelayanan itu sendiri. Pelayanan publik yang baik adalah pelayanan yang memanusiakan masyarakat, sebuah gagasan yang akan terus menjadi benang merah dalam pembahasan berikut.

Gagasan ini selaras dengan perspektif psikologi humanistik. Abraham Maslow menempatkan kebutuhan manusia dalam sebuah hierarki bertingkat, mulai dari kebutuhan dasar seperti pangan dan tempat tinggal, rasa aman, kasih sayang dan penghargaan, hingga aktualisasi diri sebagai puncaknya. Ketika kebutuhan dasar dan rasa aman belum terpenuhi, sulit bagi seseorang untuk berkembang ke tahap yang lebih tinggi. Di sisi lain, Carl Rogers menekankan pentingnya penghargaan terhadap individu dan empati dalam setiap relasi, karena setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk berkembang asalkan diberi ruang dan diperlakukan secara manusiawi. Kedua gagasan ini menjadi dasar untuk melihat sejauh mana sebuah layanan publik, termasuk Aplikasi Cek Bansos, benar-benar berpihak pada kebutuhan psikologis masyarakat yang dilayaninya.

Aplikasi Cek Bansos dalam Perspektif Psikologi Humanistik

Jika ditelusuri lebih jauh, kehadiran Aplikasi Cek Bansos sesungguhnya menyentuh lebih dari satu lapis kebutuhan manusia sekaligus. Bantuan sosial seperti PKH dan BPNT sejak awal memang hadir untuk membantu keluarga miskin dan rentan memenuhi kebutuhan hidup paling mendasar, mulai dari pangan hingga pendidikan dan kesehatan. Aplikasi tersebut berperan untuk mempermudah masyarakat memperoleh kabar mengenai status bantuan mereka tanpa harus bergantung pada perangkat desa atau menunggu informasi yang belum tentu akurat.

Lapis kebutuhan berikutnya adalah rasa aman. Ketidakjelasan status bantuan selama ini sering menjadi sumber kecemasan tersendiri bagi keluarga penerima manfaat, sementara dengan aplikasi ini masyarakat dapat mengecek statusnya sendiri kapan saja menggunakan NIK, tanpa perantara. Informasi yang tersaji lebih transparan tersebut membantu mengurangi ketidakpastian yang selama ini dirasakan, sekaligus memberi keyakinan bahwa data mereka dapat dipantau dan diperbaiki bila terjadi kekeliruan.

Aplikasi Cek Bansos ini bukan hanya sekadar alat pengecekan, tetapi juga merupakan aplikasi yang menghargai masyarakat sebagai subjek, bukan objek pelayanan. Melalui fitur Usul, masyarakat dapat mengusulkan diri sendiri maupun orang lain yang dinilai layak menerima bantuan namun belum terdata. Melalui fitur Sanggah, masyarakat juga dapat melaporkan penerima yang dianggap sudah tidak lagi memenuhi kriteria. Keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah melalui proses verifikasi berjenjang, tetapi ruang untuk didengar itu sendiri sudah menjadi bentuk penghargaan yang jarang ditemukan pada layanan publik konvensional. Ketika sebuah aplikasi mampu memenuhi kebutuhan dasar, memberi rasa aman, sekaligus menghargai partisipasi masyarakat, disitulah pelayanan publik yang baik, yaitu pelayanan yang memanusiakan masyarakat, bukan sekadar slogan. Selain itu, teknologi juga kembali ke tempat yang semestinya, yaitu sebagai alat, bukan tujuan.

Sebagaimana inovasi digital lainnya, penerapan Aplikasi Cek Bansos tentu tidak terlepas dari sejumlah tantangan yang wajar terjadi pada tahap awal maupun dalam perluasannya. Masih terdapat masyarakat yang belum terbiasa menggunakan aplikasi digital untuk keperluan administratif semacam ini, terutama di wilayah dengan akses internet terbatas atau kelompok lanjut usia, sehingga edukasi dan pendampingan di tingkat desa atau kelurahan tetap dibutuhkan agar fitur Usul dan Sanggah dapat digunakan secara tepat dan dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat. Tantangan semacam ini bukan alasan untuk mundur, melainkan peluang untuk terus menyempurnakan pelayanan publik yang semakin humanis.

Digitalisasi pelayanan publik memang merupakan langkah yang baik, tetapi nilai utamanya tetap terletak pada bagaimana teknologi digunakan untuk menghargai dan memanusiakan masyarakat. Ketika masyarakat merasa didengar, dilibatkan, dan dipermudah dalam memperoleh haknya, di situlah tujuan pelayanan publik yang humanis akan semakin nyata terwujud.

SUMBER REFERENSI

Maslow, A. H. (1943). A Theory of Human Motivation. Psychological Review.

Rogers, C. R. (1961). On Becoming a Person: A Therapist’s View of Psychotherapy. Houghton Mifflin.

Kabar Malang. (2026, 18 April). Panduan Aplikasi Cek Bansos Kemensos 2026: Cara Daftar, Fitur Usul, dan Sanggah Online. Diakses dari https://kabarmalang.com/52859/panduan-aplikasi-cek-bansos-kemensos-2026-cara-daftar-fitur-usul-dan-sanggah-online

Readers.id. (2026, 7 April). Akses Cek Bansos Kemensos Online 2026 Tahap 2 Dipermudah. Diakses dari https://www.readers.id/cek-bansos-kemensos-online-2026-tahap-2

Palpos.disway.id. (2026, Juli). Bansos 2026: Aplikasi Resmi Kemensos Bisa Sanggah Data Penerima yang Tidak Tepat Sasaran dan Usul Penerima Baru. Diakses dari https://palpos.disway.id/headline/read/717738/bansos-2026-aplikasi-resmi-kemensos-bisa-sanggah-data-penerima-yang-tidak-tepat-sasaran-dan-usul-penerima-bar

Blog Itera. (2026, Agustus). Cek Bansos Kemensos Go ID 2026 Tahap 3 Secara Online lewat HP. Diakses dari https://blog.itera.ac.id/cek-bansos-kemensos-go-id-2026-tahap-3-secara-online-lewat-hp/