Oleh: Thearizky Cintari Sylvanita – Mahasiswa Universitas Siber Asia

Ruang Digital dan Wajah Baru Interaksi Manusia

“Tidak semua luka meninggalkan bekas di tubuh. Sebagian justru tersimpan dalam jejak digital yang tidak pernah benar-benar hilang.”

Hanya dalam hitungan detik, sebuah komentar di media sosial dapat menjangkau ribuan orang. Kalimat yang ditulis secara spontan mampu membentuk opini, memicu perdebatan, dan meninggalkan jejak digital yang bertahan jauh lebih lama daripada percakapan sehari-hari.

Media sosial bukan lagi sekadar sarana berbagi informasi, tetapi ruang untuk membangun relasi, menyampaikan pendapat, dan membentuk identitas. Di balik berbagai kemudahan tersebut, saya melihat sebuah ironi. Teknologi berkembang begitu cepat, tetapi kemampuan untuk saling memahami tidak selalu berkembang seiring dengannya. Ruang digital yang seharusnya mendekatkan manusia kerap berubah menjadi ruang yang dipenuhi penghakiman dan minim empati.

Ketika Kebebasan Berpendapat Kehilangan Empati

Media sosial memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan pendapat tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Di satu sisi, kebebasan ini memperluas partisipasi masyarakat dalam berbagai isu. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut sering kali dipahami sebagai kebebasan untuk mengatakan apa saja tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Ketika empati tidak lagi menjadi pertimbangan, ruang digital mudah berubah menjadi tempat saling menghakimi, melabeli, bahkan menyerang hanya karena perbedaan pandangan.

Fenomena tersebut bukan lagi sesuatu yang sulit dijumpai. Berbagai kasus perundungan siber (cyberbullying), penyebaran ujaran kebencian, hingga budaya cancel culture menunjukkan bahwa sebuah komentar yang ditulis dalam hitungan detik dapat meninggalkan dampak psikologis yang jauh lebih lama bagi korbannya. Di balik setiap akun media sosial terdapat manusia yang memiliki perasaan, harga diri, dan martabat yang sama. Karena itu, persoalan di ruang digital bukan lagi sekadar tentang kebebasan berekspresi, melainkan tentang bagaimana kebebasan tersebut dijalankan dengan tetap menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

Yang Hilang Bukan Teknologinya, Melainkan Kemampuan Menjadi Manusia

Fenomena tersebut menjadi salah satu pokok pembahasan dalam Kuliah Umum MKU Estetika Humanisme (Human Literacy) bertema “Seni Membangun Karakter & Kecerdasan Emosional: Dari Overthinking Jadi Outstanding” yang diselenggarakan Universitas Siber Asia pada 20 Juni 2026. Dalam kuliah umum tersebut, Prof. Dr. Bagus Takwin, M.Hum., Psikolog, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, dan Prof. Dr. Puji Astuti, S.IP., M.Si., Guru Besar Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta, mengajak peserta melihat bahwa tantangan terbesar di era digital bukan sekadar perkembangan teknologi, melainkan bagaimana manusia tetap mampu menjaga karakter, empati, dan nilai-nilai kemanusiaannya.

Prof. Bagus Takwin menegaskan bahwa teknologi pada dasarnya hanyalah alat. Yang menentukan apakah teknologi membawa manfaat atau justru melahirkan konflik adalah cara manusia menggunakannya. Karena itu, persoalan utama di ruang digital bukan terletak pada kecanggihan teknologinya, melainkan pada kemampuan manusia memahami diri sendiri, memahami orang lain, berpikir kritis, berempati, dan menemukan makna dalam setiap tindakan. Kemampuan inilah yang disebut sebagai human literacy.

Pandangan tersebut mengingatkan bahwa persoalan di ruang digital tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan kecakapan menggunakan teknologi. Literasi digital memang membuat seseorang mampu mengoperasikan berbagai platform, tetapi human literacy membantu seseorang menentukan bagaimana teknologi itu digunakan secara bertanggung jawab. Ketika keduanya berjalan seimbang, teknologi tidak lagi menjadi ruang untuk saling menjatuhkan, melainkan sarana membangun dialog, kolaborasi, dan kehidupan sosial yang lebih manusiawi.

Dari Overthinking Menuju Outstanding

Jika human literacy membantu seseorang memahami orang lain, maka langkah berikutnya adalah memahami dirinya sendiri. Ruang digital tidak hanya memengaruhi cara kita berinteraksi, tetapi juga cara kita memandang diri sendiri. Media sosial terus menampilkan standar kesuksesan yang seolah harus diikuti. Tanpa disadari, kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain dapat menimbulkan rasa tidak cukup baik, kecemasan, bahkan overthinking. Dalam kondisi seperti itu, seseorang tidak hanya mudah kehilangan kepercayaan diri, tetapi juga lebih rentan bereaksi secara emosional terhadap orang lain.

Dalam pemaparannya, Prof. Bagus Takwin menjelaskan bahwa akar persoalannya bukan sekadar banyaknya informasi yang diterima, melainkan kecenderungan manusia mencari pengakuan dari luar dirinya. Ketika nilai diri ditentukan oleh jumlah likes, komentar, atau penerimaan orang lain, seseorang akan semakin sulit mengenali siapa dirinya sebenarnya. Padahal, menurut beliau, manusia tidak dituntut menjadi sempurna, melainkan menjadi autentik.

Autentik berarti berani mengenali diri sendiri, menerima kekurangan, dan menjalani hidup berdasarkan nilai yang diyakini, bukan semata-mata mengikuti ekspektasi lingkungan. Sejalan dengan pemikiran psikolog humanistik Carl Rogers, seseorang dapat berkembang secara utuh ketika mampu menerima dirinya apa adanya dan hidup selaras dengan nilai yang diyakininya. Dengan demikian, menjadi outstanding bukan berarti selalu menjadi yang paling hebat, tetapi mampu tetap menjadi diri sendiri, berpikir kritis, serta memegang nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus informasi.

Komunikasi Hati: Ketika Teknologi Harus Tetap Berpihak pada Manusia

Jika Prof. Bagus Takwin mengajak kita mengenali diri sendiri melalui human literacy, maka Prof. Dr. Puji Astuti menawarkan cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari melalui konsep Komunikasi Hati. Menurut beliau, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi kemampuan memahami manusia di balik setiap percakapan. Di ruang digital, setiap komentar, unggahan, atau respons bukan hanya menghasilkan informasi, tetapi juga dapat membangun ataupun melukai hubungan antarmanusia.

Prof. Puji menjelaskan bahwa komunikasi yang humanis dapat dimulai dari empat kebiasaan sederhana berikut.

  • Olah pikir, yaitu membiasakan diri berpikir positif dan rasional sebelum bereaksi.
  • Olah rasa, yaitu mengenali serta mengelola emosi agar tidak dikuasai amarah, prasangka, atau kekecewaan.
  • Empati, yaitu berusaha memahami sudut pandang dan perasaan orang lain sebelum memberikan penilaian.
  • Kedamaian batin, yaitu menjaga keseimbangan diri agar mampu merespons persoalan dengan lebih tenang dan bijaksana.

Keempat prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa teknologi seharusnya mendekatkan manusia, bukan memperbesar konflik. Di tengah budaya yang mendorong respons serba cepat, kemampuan berpikir sebelum bereaksi justru menjadi bentuk tanggung jawab di ruang digital.

Bagi saya, inilah makna paling penting dari Komunikasi Hati. Di tengah budaya yang mendorong kita untuk segera berkomentar, justru kemampuan menahan diri, mendengarkan, dan mempertimbangkan dampak dari setiap kata menjadi wujud nyata bahwa teknologi masih digunakan untuk memanusiakan manusia.

Menjadi Manusia di Tengah Kemajuan Teknologi

Bagi saya, tantangan terbesar di era digital bukanlah mengikuti perkembangan teknologi, melainkan tetap menjadi manusia ketika teknologi terus berkembang. Kuliah umum ini mengingatkan bahwa human literacy dan Komunikasi Hati bukan sekadar konsep, tetapi cara menjaga empati di tengah derasnya arus informasi.

Sebelum menekan tombol “kirim”, saya percaya setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah yang saya tulis akan memperbaiki keadaan, atau justru menambah luka bagi orang lain? Jika kebiasaan sederhana ini tumbuh bersama, ruang digital akan menjadi tempat yang lebih sehat untuk semua.

Referensi

Universitas Siber Asia. (2026). Kuliah Umum MKU Estetika Humanisme (Human Literacy): “Seni Membangun Karakter & Kecerdasan Emosional; dari Overthinking jadi Outstanding” (Narasumber: Prof. Dr. Bagus Takwin, M.Hum., Psikolog dan Prof. Dr. Puji Astuti, S.IP., M.Si.). Diselenggarakan pada 20 Juni 2026 melalui UNSIA TV ONLINE.