Penulis: Nadya Nayla Putri – Universitas Siber Asia
Medan — Lia Dewi (32), yang akrab disapa Ibu Lia, telah menjalankan usaha pakaian selama sekitar tiga tahun. Di tengah kesibukannya mengurus tiga orang anak, Ibu Lia tetap meluangkan waktu untuk menjalankan usahanya. Ia memasarkan pakaian secara langsung melalui toko dan pasar serta secara daring melalui media sosial.
Ibu Lia memilih menjalankan usaha sendiri karena waktu kerjanya lebih fleksibel. Kondisi tersebut memudahkannya dalam menyesuaikan waktu antara mengurus keluarga dan menjalankan usaha. Meskipun demikian, ia tetap menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan kedua peran tersebut.
“Kalau dihitung, usaha pakaian yang saya jalani ini sudah berjalan sekitar tiga tahun. Dari awalnya cuma coba-coba, lama-lama saya belajar juga. Sekarang Alhamdulillah sudah lebih stabil,” ujar Ibu Lia.
Awal Mula Ibu Lia Menjalankan Usaha
Ibu Lia telah memiliki ketertarikan terhadap kegiatan berjualan sejak dahulu. Selain karena menyukai kegiatan tersebut, ia juga ingin membantu memenuhi kebutuhan keluarga melalui penghasilan dari usaha.
“Saya ingin membantu keluarga, terutama dalam hal ekonomi. Jadi saya bisa ikut membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Dari dulu saya juga memang suka jualan, jadi usaha ini sekaligus menyalurkan hobi saya,” ujarnya.
Sebelum menjalankan usaha pakaian, Ibu Lia telah mencoba beberapa jenis usaha. Ia pernah berjualan bakso, es kul-kul, berbagai jenis jajanan, dan ayam bakar. Pengalaman tersebut memberikan pengetahuan dan pengalaman yang dapat ia gunakan ketika menjalankan usaha pakaian.
Ibu Lia memulai usaha pakaian berdasarkan keinginannya sendiri. Ia tidak memulai usaha tersebut karena mengikuti orang lain.
“Dari dulu saya memang suka jualan. Jadi keinginan untuk mulai usaha itu memang dari saya sendiri, bukan karena ikut-ikutan atau terinspirasi dari orang lain,” katanya.
Mengatur Waktu antara Anak dan Usaha
Ibu Lia tetap menempatkan anak-anak sebagai prioritas utama meskipun ia memiliki kesibukan dalam menjalankan usaha. Ia biasanya menyelesaikan kebutuhan anak-anak terlebih dahulu sebelum mengurus usaha.
Menurut Ibu Lia, menjalankan usaha sendiri memberikan keleluasaan dalam mengatur waktu. Ia tidak harus mengikuti jam kerja tertentu seperti orang yang bekerja di kantor.
“Kalau usaha sendiri kan waktunya lebih fleksibel. Saya biasanya urus anak-anak dulu, lihat kebutuhan mereka sudah selesai atau belum. Kalau sudah, baru saya lanjut mengurus usaha,” jelasnya.
Namun, Ibu Lia tidak selalu mudah membagi waktu antara mengurus anak dan menjalankan usaha. Kondisi tersebut menjadi lebih sulit ketika anak sedang sakit.
“Yang paling berat biasanya kalau anak sedang sakit, sementara usaha juga tetap harus diurus. Saya pasti khawatir sama kondisi anak, tapi usaha juga tetap harus berjalan. Jadi memang cukup capek, baik badan maupun pikiran,” tuturnya.
Dalam kondisi tersebut, Ibu Lia harus memberikan perhatian kepada anak sekaligus tetap menjalankan tanggung jawab terhadap usahanya. Situasi tersebut menjadi salah satu tantangan yang ia hadapi selama menjalankan kedua peran tersebut.
Mulai Berjualan melalui Media Sosial
Ibu Lia mulai menggunakan media sosial sebagai salah satu sarana untuk memasarkan produknya. Ia mengambil keputusan tersebut karena menyadari bahwa perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat melakukan kegiatan jual beli.
“Sekarang sudah zamannya digital. Jadi menurut saya, kalau menjalankan usaha juga harus mengikuti perkembangan. Kalau tidak, nanti bisa ketinggalan. Makanya saya mencoba berjualan lewat media sosial,” jelasnya.
Ibu Lia mempelajari cara berjualan melalui media sosial secara mandiri. Ia mencari berbagai informasi melalui internet dan mempraktikkannya secara langsung dalam kegiatan berjualan.
“Kalau belajar, saya kebanyakan sendiri dari internet. Kalau ada yang belum tahu, saya cari tahu caranya. Dari pengalaman jualan online juga saya banyak belajar. Kalau ada kesalahan, saya coba jadikan pelajaran supaya berikutnya bisa lebih baik,” katanya.
Pada awal menjalankan penjualan secara daring, Ibu Lia mengalami kesulitan dalam menggunakan teknologi. Ia mengaku belum memahami cara menggunakan berbagai platform yang dapat digunakan untuk berjualan secara online.
“Waktu pertama mulai memang masih belum terlalu paham. Bisa dibilang saya masih gaptek. Jadi harus belajar pelan-pelan sampai akhirnya terbiasa menggunakan media untuk jualan online,” ungkapnya.
Seiring berjalannya waktu, Ibu Lia mulai terbiasa menggunakan media digital. Ia juga menjadikan kesalahan yang pernah dialaminya sebagai bahan untuk memperbaiki cara berjualan.
Menghadapi Berbagai Tantangan dalam Menjalankan Usaha
Ibu Lia juga pernah menerima komentar dari orang-orang di lingkungan sekitarnya mengenai keputusan untuk menjalankan usaha sambil menjadi ibu rumah tangga. Beberapa orang beranggapan bahwa seorang ibu rumah tangga seharusnya lebih fokus mengurus rumah dan anak.
Meskipun menerima komentar tersebut, Ibu Lia tetap menjalankan usahanya. Ia berusaha mengatur waktu agar tanggung jawab terhadap keluarga dan usaha dapat tetap berjalan.
Selain menghadapi komentar dari lingkungan sekitar, Ibu Lia juga menghadapi kondisi usaha yang tidak selalu stabil. Pada waktu tertentu, jumlah pembeli dapat menurun sehingga pendapatan yang diperoleh juga ikut berkurang.
“Kalau dagangan lagi sepi atau pendapatan turun, saya berusaha tenang dulu dan tetap berdoa. Setelah itu saya pikirkan lagi apa yang bisa dilakukan. Biasanya saya cari cara atau coba sesuatu yang baru supaya dagangan bisa ramai lagi,” ujarnya.
Ketika menghadapi kondisi tersebut, Ibu Lia berusaha mencari cara untuk meningkatkan kembali penjualan. Ia mencoba membuat sesuatu yang baru dan melakukan perubahan agar usahanya dapat kembali berjalan dengan baik.
Tetap Bertahan dan Tidak Mudah Menyerah
Selama menjalankan usaha dan mengurus keluarga, Ibu Lia menghadapi berbagai keadaan yang tidak selalu mudah. Meskipun demikian, ia bersyukur karena memiliki sikap yang tidak mudah menyerah.
“Kalau yang paling saya syukuri, mungkin saya orangnya tidak gampang menyerah. Walaupun kadang capek dan banyak yang harus dipikirkan, saya tetap berusaha menjalaninya. Sampai sekarang Alhamdulillah masih bisa mengurus anak sekaligus menjalankan usaha,” katanya.
Pengalaman tersebut juga ingin Ibu Lia jadikan sebagai pembelajaran bagi ketiga anaknya. Ia berharap anak-anaknya dapat mengambil nilai positif dari pengalaman yang telah ia jalani.
“Kalau untuk anak-anak, saya ingin mereka bisa belajar dari apa yang sudah saya jalani. Yang penting selalu bersyukur, apa pun keadaannya. Kalau ada masalah jangan gampang menyerah. Harus mau belajar dan mencoba hal-hal baru. Terus tetap semangat dan jangan mudah putus asa,” pesannya.
Selama menjalankan usaha pakaian, Ibu Lia mendapatkan berbagai pengalaman baru. Ia belajar menjalankan usaha, mengatur waktu, menggunakan media sosial, menghadapi kondisi penjualan yang berubah, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
Hingga saat ini, Ibu Lia masih menjalankan usaha pakaian tersebut sambil mengurus ketiga anaknya. Ia berusaha mempertahankan usaha yang telah dirintisnya dan terus belajar agar usahanya dapat berkembang.





