Penulis: Nabila Fauziah – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Belakangan ini, berita tentang mahasiswa yang meninggal karena diduga bunuh diri kembali muncul di berbagai media. Berita seperti ini tentu membuat kita prihatin, tetapi menurut saya, persoalannya tidak cukup hanya berhenti pada pertanyaan, “Apa masalahnya?” Kita juga perlu bertanya lebih jauh: mengapa ada anak muda yang sampai merasa hidupnya tidak lagi memiliki jalan keluar?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena mahasiswa sering kali dianggap sebagai kelompok yang sedang berada pada masa produktif. Mereka sedang menempuh pendidikan, mempersiapkan karier, membangun pertemanan, dan mulai menentukan masa depan. Dari luar, kehidupan mereka mungkin terlihat baik-baik saja. Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Seseorang bisa tetap masuk kuliah, mengerjakan tugas, bertemu teman, bahkan terlihat ceria, tetapi di dalam dirinya sedang mengalami tekanan yang tidak diketahui orang lain.
Fenomena ini terlihat dalam sejumlah kasus yang diberitakan media. CNN Indonesia, misalnya, pada Oktober 2024 memberitakan beberapa kasus mahasiswa yang meninggal karena diduga bunuh diri. Dalam pemberitaan tersebut, terdapat kasus mahasiswa Universitas Tarumanagara, Universitas Kristen Petra Surabaya, dan Universitas Ciputra Surabaya. Latar belakang masing-masing kasus juga tidak sama. Ada kasus yang masih diselidiki motifnya, sementara pada kasus lain ditemukan informasi mengenai kondisi psikologis korban sebelumnya. Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan bunuh diri pada mahasiswa tidak bisa disederhanakan menjadi satu penyebab saja.
Di sinilah saya melihat bahwa psikologi humanistik dapat digunakan untuk memahami persoalan tersebut dari sisi yang lebih manusiawi. Psikologi humanistik memandang manusia bukan hanya sebagai seseorang yang harus menyelesaikan masalah, memenuhi tuntutan, atau mencapai prestasi tertentu. Manusia juga memiliki kebutuhan untuk merasa diterima, dihargai, dipahami, dan berkembang menjadi dirinya sendiri.
Salah satu tokoh penting dalam psikologi humanistik adalah Carl Rogers. Rogers memandang bahwa manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk berkembang dan menjadi pribadi yang lebih utuh. Namun, proses tersebut membutuhkan lingkungan yang mendukung. Salah satu konsep pentingnya adalah unconditional positive regard, yaitu penerimaan terhadap seseorang tanpa membuat nilai dirinya bergantung pada pencapaian atau kegagalannya.
Kalau konsep ini kita hubungkan dengan kehidupan mahasiswa, sebenarnya ada pertanyaan sederhana yang cukup penting: apakah seorang mahasiswa merasa dirinya tetap berharga ketika nilainya turun, ketika gagal dalam suatu hal, ketika hubungan pertemanannya bermasalah, atau ketika rencana masa depannya tidak berjalan sesuai harapan? Menurut saya, pertanyaan ini sering terlupakan.
Kita hidup dalam lingkungan yang cukup mudah membuat anak muda membandingkan dirinya dengan orang lain. Di media sosial, misalnya, kita sering melihat teman yang sudah bekerja, mendapatkan beasiswa, memiliki prestasi, bepergian, atau terlihat bahagia. Tanpa disadari, semua itu bisa membuat seseorang merasa dirinya tertinggal. Ditambah dengan tuntutan akademik, masalah keluarga, persoalan hubungan, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian masa depan, beban yang dirasakan seseorang dapat menjadi semakin berat.
Masalahnya, tidak semua orang mampu mengungkapkan tekanan tersebut. Ada mahasiswa yang memilih diam karena takut dianggap lemah. Ada yang tidak ingin membuat orang tuanya khawatir. Ada juga yang merasa bahwa masalahnya tidak cukup penting untuk diceritakan kepada orang lain. Akhirnya, seseorang bisa terbiasa menyimpan semuanya sendiri.
Padahal, meminta bantuan bukan berarti seseorang gagal menghadapi hidup. Justru, menurut saya, salah satu hal yang perlu diperbaiki adalah cara kita memandang kesehatan mental. Selama ini, seseorang terkadang baru dianggap membutuhkan bantuan ketika masalahnya sudah terlihat sangat berat. Padahal, perhatian seharusnya diberikan jauh sebelum kondisi tersebut menjadi krisis.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian mengenai kesehatan mahasiswa di Indonesia. Ekawati dan rekan-rekan dalam penelitian yang diterbitkan di Scientific Reports pada 2025 menunjukkan bahwa persoalan kesehatan dan kesejahteraan mahasiswa merupakan isu yang perlu mendapatkan perhatian. Penelitian lain mengenai risiko bunuh diri mahasiswa di beberapa wilayah Jawa juga menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental mahasiswa, bukan hanya dari sisi akademik tetapi juga dari sisi psikososial.
Artinya, kampus tidak seharusnya hanya menjadi tempat mahasiswa mengejar nilai dan mendapatkan gelar. Kampus juga seharusnya menjadi ruang yang membuat mahasiswa merasa aman untuk menjadi manusia.
Menurut saya, dukungan tersebut tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar. Dosen yang mau mendengarkan mahasiswa tanpa langsung menghakimi, teman yang mau bertanya “kamu sebenarnya baik-baik saja?”, keluarga yang tidak hanya bertanya tentang nilai, serta layanan konseling yang mudah diakses dapat menjadi bagian dari lingkungan yang lebih sehat.
Kita juga perlu berhenti menganggap bahwa mahasiswa yang berprestasi pasti tidak memiliki masalah. Prestasi akademik tidak otomatis menunjukkan bahwa kondisi emosional seseorang baik. Begitu juga sebaliknya, mahasiswa yang sedang mengalami kegagalan bukan berarti dirinya tidak memiliki masa depan.
Dalam perspektif humanistik, manusia memiliki kemungkinan untuk berkembang. Karena itu, ketika seseorang sedang berada dalam kondisi sulit, yang dibutuhkan bukan hanya nasihat seperti “kamu harus kuat” atau “jangan menyerah”. Kalimat seperti itu memang terdengar baik, tetapi terkadang tidak cukup. Seseorang juga membutuhkan ruang untuk didengarkan tanpa langsung diberi penilaian.
Menurut saya, inilah hal yang paling penting dari pendekatan humanistik: melihat seseorang sebagai manusia terlebih dahulu, bukan sebagai nilai, prestasi, status, atau masalahnya.
Kasus-kasus mahasiswa yang meninggal karena dugaan bunuh diri seharusnya menjadi pengingat bahwa krisis mental pada anak muda bukan persoalan yang bisa dianggap sepele. Kita juga harus berhati-hati dalam menentukan penyebabnya. Tidak semua kasus dapat dijelaskan hanya dengan bullying, tekanan kuliah, masalah keluarga, hubungan asmara, atau depresi. Setiap orang memiliki pengalaman dan kondisi yang berbeda.
Karena itu, daripada sibuk mencari satu penyebab untuk semua kasus, mungkin sudah waktunya kita lebih banyak bertanya tentang bagaimana menciptakan lingkungan yang membuat anak muda merasa bahwa dirinya berharga dan memiliki tempat untuk pulang ketika sedang menghadapi masalah.
Pada akhirnya, mencegah krisis mental bukan hanya tugas psikolog, psikiater, atau konselor. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga, kampus, teman, dan lingkungan sosial semuanya memiliki peran.
Saya percaya bahwa tidak semua masalah dapat diselesaikan hanya dengan kata-kata. Namun, terkadang seseorang memang membutuhkan satu hal sederhana sebelum ia merasa benar-benar sendirian: seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Anak muda tidak selalu membutuhkan kehidupan yang sempurna. Mereka juga tidak harus selalu kuat. Mereka hanya perlu tahu bahwa ketika sedang gagal, bingung, atau merasa kehilangan arah, dirinya tetap berharga dan masih ada orang yang peduli. Dan mungkin, dari situlah alasan untuk bertahan bisa kembali ditemukan.






