MEDAN, 13 September 2026 — Seberapa baik seorang ayah mengenali suara anaknya? Pertanyaan sederhana itu menjadi awal permainan yang justru menghadirkan tawa, kejutan, hingga pelukan hangat antara ayah dan anak dalam kegiatan BERGEMA Aku dan Bapakku “Jejak Horas” di Medan, Sumatera Utara.

Ibu Profesional Regional Sumatera Utara bekerja sama dengan The Human Safety Net (THSN) menggelar kegiatan tersebut di Johor Islamic Green School (JIGS), Medan, Minggu, 13 September 2026. Sebanyak 33 keluarga mengikuti kegiatan yang melibatkan 47 anak untuk bermain dan menyelesaikan berbagai tantangan bersama ayah mereka.

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB tersebut merupakan bagian dari program nasional BERGEMA; Berbagi, Bergerak, Bersama yang diselenggarakan Ibu Profesional di 42 regional di Indonesia.

Bukan sekadar bermain, kegiatan ini dirancang untuk membuka ruang bagi ayah dan anak membangun kembali kedekatan melalui pengalaman sederhana. Para ayah diajak terlibat secara aktif dalam permainan, berkomunikasi, bekerja sama, sekaligus menemukan kembali cara menikmati waktu bersama anak.

“Kita percaya bahwa keluarga adalah tempat pertama bagi anak untuk belajar. Ketika kita menguatkan keluarga, sesungguhnya kita juga sedang menyiapkan masa depan,” ujar Kurniawati Dwi Manur, Sekretaris Regional Ibu Profesional Sumatera Utara dalam kata sambutannya.

Dimulai dari Satu Panggilan “Bapak!”

Salah satu momen yang paling mengundang tawa sekaligus menyentuh terjadi pada permainan di pos pertama, Kenali Suara Anak.
Semua ayah duduk membelakangi anak-anak mereka. Dari belakang, terdengar suara anak memanggil, “Bapak!”

Sekali, Dua kali, Tiga Kali.

Namun, beberapa ayah tetap belum berbalik. Mereka tampak berpikir dan memastikan apakah suara yang terdengar benar-benar suara anak mereka. Suasana kemudian pecah oleh tawa ketika panggilan itu terus terdengar tanpa ada ayah yang menoleh.

Permainan sederhana tersebut kemudian berubah menjadi momen yang hangat ketika seorang ayah akhirnya berhasil mengenali suara anaknya. Ia berbalik, menghampiri sang anak, lalu memeluknya.
Momen itu menjadi pembuka perjalanan Jejak Horas, sebuah petualangan yang dirancang untuk menghadirkan pengalaman bermakna antara ayah dan anak.

“Biar nggak apa kali,” ujar salah seorang ayah sambil tertawa ketika memberikan kesannya setelah mengikuti kegiatan. Menurutnya, kegiatan semacam ini penting karena ayah yang bekerja setiap hari membutuhkan ruang untuk benar-benar hadir bersama anak.

Lima Pos, Satu Jejak Kedekatan

Di Sumatera Utara, program Aku dan Bapakku dikemas dalam konsep “Jejak Horas”. Nama tersebut memadukan kata jejak sebagai simbol perjalanan ayah dan anak dengan kata Horas, ungkapan yang lekat dengan doa, harapan, keselamatan, dan kebahagiaan dalam budaya Batak.

Petualangan terdiri atas lima pos permainan: Kenali Suara Anak, Menggiring Ban, Tebak Gambar, Kardus Berjalan, dan Menempel Puzzle.
Setiap kali menyelesaikan tantangan di setiap pos, ayah dan anak mendapatkan potongan puzzle. Di akhir permainan, potongan-potongan tersebut disusun menjadi gambar Homi dan keluarga dengan pakaian ulos.

Puzzle menjadi metafora bahwa kedekatan antara orang tua dan anak tidak dibangun melalui satu peristiwa besar, melainkan dari potongan-potongan pengalaman kecil yang terus dikumpulkan sepanjang perjalanan tumbuh kembang anak.

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan program Aku dan Bapakku, yang hadir dari perhatian terhadap masih adanya ayah yang belum banyak terlibat dalam pengasuhan atau merasa bingung memulai aktivitas bersama anak.

“Ketika orang tua mendapat dukungan dan anak-anak mendapatkan lingkungan yang penuh kasih sayang, masa depan yang lebih baik bisa kita bangun bersama,” kata Obas Sumata Tambunan, perwakilan The Human Safety Net (THSN).

Dari Bermain Menjadi Komitmen

Setelah menyelesaikan seluruh misi, ayah dan anak mengikuti sesi refleksi “Gali dan Gema”. Anak diajak menceritakan pengalaman yang paling menyenangkan dan mengekspresikan perasaannya melalui pilihan stiker: senang, seru, sedih, bosan, biasa saja, atau semangat.

Para ayah kemudian menuliskan rencana aktivitas yang akan dilakukan bersama anak setelah kegiatan selesai. Komitmen tersebut beragam, mulai dari shalat berjamaah bersama anak, menemani anak belajar, mengantar sekolah, hingga menyediakan waktu khusus untuk bermain bersama.

Salah seorang ayah bahkan menuliskan komitmen untuk terus bermain bersama anak selama tujuh hari ke depan.

Bagi penyelenggara, komitmen tersebut menjadi bagian penting dari kegiatan. Sebab, tujuan Jejak Horas bukan berhenti pada tiga jam aktivitas hari ini, melainkan membawa pengalaman tersebut pulang ke rumah.

Ibu Mendapat Ruang untuk Berhenti Sejenak

Ketika ayah dan anak menjalani petualangan Jejak Horas, para ibu mengikuti Mom’s Corner, yang diisi dengan kegiatan painting dan journaling bersama Ratika Candra.

Salah seorang peserta, Titin, mengaku senang dapat kembali merasakan suasana seperti masa kecil. Mewarnai sambil berbincang dengan teman membuatnya dapat menikmati ketenangan sejenak di tengah rutinitas.

“Saya seperti kembali ke masa kecil. Bisa mewarnai, ngobrol dengan teman, tanpa beban,” ujarnya.

Berbagi Manfaat, Memperluas Dampak

Rangkaian BERGEMA juga diisi dengan Selebrasi Kelas Literasi Finansial Keluarga, program pembelajaran yang berlangsung sejak Mei hingga Agustus 2026 dalam lima kali pertemuan.
Peserta yang memenuhi persyaratan kehadiran dan dinyatakan lulus menerima pin dan sertifikat sebagai bentuk apresiasi atas komitmen mengikuti proses pembelajaran.

Semangat berbagi kemudian diwujudkan melalui penyerahan beasiswa senilai Rp250.000 beserta learning kit kepada 10 anak dari keluarga rentan penyandang disabilitas yang bersekolah di Medan Ceria.

Bantuan diserahkan secara simbolis oleh perwakilan THSN, Founder Ibu Profesional; Septi Peni Wulandani, serta Sekretaris Regional Ibu Profesional Sumatera Utara.

Dengan demikian, BERGEMA tidak hanya menjadi ruang bagi keluarga peserta untuk belajar dan bertumbuh bersama, tetapi juga menjadi sarana memperluas manfaat kepada keluarga lain yang membutuhkan dukungan.

Pulang Membawa Kenangan

Rangkaian kegiatan ditutup dengan suasana penuh keceriaan. Ayah, ibu, dan anak bernyanyi bersama lagu masa kecil “Doraemon”, mengakhiri pagi yang dipenuhi permainan, tawa, dan interaksi keluarga.
Melalui Aku dan Bapakku “Jejak Horas”, Ibu Profesional Regional Sumatera Utara dan THSN ingin mengingatkan bahwa keterlibatan ayah dalam kehidupan anak tidak selalu membutuhkan hal-hal besar.

Kadang, ia dimulai dari kesediaan duduk bersama, bermain, mendengarkan cerita anak, atau sekadar meluangkan beberapa jam tanpa distraksi.
Bagi seorang anak, waktu bermain bersama ayah mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, kenangan tentang seorang ayah yang memilih hadir dan berjalan bersamanya dapat menjadi bekal yang jauh lebih panjang dalam perjalanan hidupnya.

Ibu Profesional Sumatera Utara

IG: @ibuprofesionalsumaterautara