Yogyakarta — Perjalanan Dhewantara Hardyk Manurung menuju dunia seni rupa Yogyakarta tidak serta-merta memutus hubungannya dengan tempat asal. Sebaliknya, perpindahan tersebut justru membuka kemungkinan baru bagi pengalaman yang dibawanya dari Batak untuk dibaca, dipertanyakan, dan diterjemahkan kembali ke dalam bahasa visual.
Hal itu terasa dalam pameran tunggal “Diri dan Liyan”, yang berlangsung pada 11–19 September 2026. Pameran ini memperlihatkan bagaimana pengalaman personal, ingatan budaya, lingkungan sosial, dan perjalanan berpindah tempat dapat menjadi bahan pembentukan praktik kreatif seorang seniman.
Dhewantara tumbuh dalam pengalaman geografis yang berlapis. Binjai, Medan, Bandung, hingga Yogyakarta menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun sebelum semua perpindahan itu menjadi pengalaman urban dan artistik, ada satu lingkungan awal yang memberi bekal penting: lingkungan Batak yang membentuk cara ia mengenali keluarga, marga, leluhur, kampung halaman, serta relasi sosial di sekitarnya.
Dalam konteks tersebut, Batak bagi Dhewantara bukan semata-mata persoalan simbol budaya yang dapat dipindahkan begitu saja ke dalam karya. Ia lebih menyerupai pengalaman hidup yang tertanam dalam ingatan.
Pengalaman lokalitas bekerja melalui hal-hal yang sering kali sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: keluarga, nama marga, cerita leluhur, kampung halaman, bahasa, kebiasaan, musik, bentuk-bentuk tradisi, hingga cara seseorang menempatkan dirinya di tengah masyarakat.
Ketika seseorang kemudian meninggalkan lingkungan tersebut, pengalaman itu tidak otomatis ikut ditinggalkan.
Ia justru dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Catatan mengenai pameran ini menyebut bahwa bagi Dhewantara, sebuah makam leluhur bermarga Manurung di kampung halaman menjadi titik yang tetap ketika kehidupan di sekelilingnya terus berpindah. Dari sana, persoalan mengenai asal-usul dan dirinya mulai mendapatkan ruang untuk direnungkan.
Perpindahan ke kota-kota lain kemudian mempertemukan Dhewantara dengan lingkungan sosial yang berbeda. Setiap tempat membawa pengalaman baru sekaligus meninggalkan jejak yang berbeda. Identitas yang sebelumnya mungkin terasa sebagai sesuatu yang sudah tersedia sejak lahir kemudian harus berhadapan dengan lingkungan baru.
Di sinilah pengalaman Batak tidak berhenti sebagai masa lalu.
Ia menjadi sesuatu yang terus dinegosiasikan.
Ketika memasuki Yogyakarta, Dhewantara berhadapan dengan dunia yang berbeda: komunitas seni, seniman, mahasiswa, ruang alternatif, diskusi, praktik seni rupa, serta berbagai bentuk pergaulan yang membentuk ekosistem kebudayaan kota ini. Dunia tersebut memberinya ruang untuk melihat kembali pengalaman yang selama ini dibawanya.
Yogyakarta dengan demikian bukan hanya tempat Dhewantara berkarya. Ia menjadi semacam laboratorium sosial.
Di kota ini, pengalaman dari kampung halaman bertemu dengan pengalaman urban. Ingatan keluarga bertemu dengan pertemanan baru. Warisan budaya bertemu dengan bahasa seni rupa kontemporer.
Pertemuan semacam itu memungkinkan lokalitas bekerja dengan cara yang lebih kompleks.
Lokalitas tidak lagi harus tampil sebagai gambaran kampung halaman atau simbol tradisi secara langsung. Ia dapat hadir sebagai cara melihat, cara mengingat, cara merasakan kehilangan, cara membangun relasi, maupun cara mempertanyakan identitas.
Salah satu jejak yang menarik terlihat dalam figur-figur yang muncul dalam karya Dhewantara. Karakter anak laki-laki dengan berbagai rupa dan kostum memiliki kedekatan visual dengan ingatan mengenai Sigale-gale serta topeng-topeng Batak seperti huda-huda dan bohi-bohi. Kemunculan kedekatan visual tersebut membuka pembacaan bahwa memori kultural Batak memiliki kemungkinan bekerja di dalam praktik visual Dhewantara.
Namun yang menarik bukan sekadar kemiripan bentuknya.
Yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman budaya tersebut mengalami transformasi ketika masuk ke ruang seni rupa.
Dalam tradisi, bentuk-bentuk kebudayaan memiliki konteks sosial dan sejarahnya sendiri. Ketika bentuk atau ingatan tersebut muncul kembali dalam karya seorang seniman yang hidup di lingkungan berbeda, maknanya dapat mengalami pergeseran.
Ia tidak lagi hanya berbicara tentang masa lalu.
Ia mulai berbicara tentang masa kini.
Tentang seseorang yang mencoba memahami kembali dari mana dirinya berasal setelah mengalami berbagai perjumpaan.
Karena itu, “Diri dan Liyan” dapat dilihat sebagai sebuah proses penerjemahan. Dhewantara tidak sekadar membawa Batak ke Yogyakarta, tetapi membawa pengalaman hidupnya ke dalam perjumpaan dengan lingkungan baru, kemudian membiarkan keduanya saling memengaruhi.
Pengalaman sosial menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Diri tidak dibentuk hanya oleh apa yang diwariskan keluarga, tetapi juga oleh orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan. Dalam pembacaan pameran, “liyan” bahkan dapat berupa keluarga, leluhur, kampung halaman, masyarakat baru, maupun diri sendiri yang berasal dari masa lalu.
Dengan begitu, perjalanan dari Batak menuju seni rupa Yogyakarta bukan perjalanan dari satu identitas menuju identitas lain.
Ia merupakan perjalanan di antara keduanya.
Dhewantara tetap membawa sesuatu dari tempat asalnya, tetapi apa yang dibawanya tidak pernah benar-benar berada dalam keadaan yang sama. Ia berubah ketika bertemu dengan lingkungan baru.
Begitu pula Yogyakarta tidak hadir sebagai ruang yang menghapus masa lalu. Kota ini justru memberikan kemungkinan untuk membaca masa lalu dari perspektif yang berbeda.
Dunia seni rupa menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut.
Di dalamnya, pengalaman personal dapat berubah menjadi pertanyaan artistik. Ingatan dapat berubah menjadi bentuk. Kegelisahan dapat menjadi karya. Dan pengalaman lokal dapat menemukan bahasa yang memungkinkan ia berbicara kepada orang-orang di luar lingkungan asalnya.
Maka ketika karya Dhewantara memperlihatkan jejak Batak, yang muncul bukan hanya persoalan identitas etnis atau simbol tradisi.
Di baliknya terdapat pengalaman sosial seseorang yang sedang mencari posisi di antara banyak lingkungan.
Ia pernah menjadi bagian dari satu rumah, kemudian berpindah. Ia menemukan komunitas baru, lalu membangun rasa memiliki kembali. Ia membawa nama keluarga dan ingatan leluhur, tetapi juga berhadapan dengan kehidupan yang terus berubah.
Dalam perjalanan semacam itu, seni rupa menjadi tempat untuk mempertemukan berbagai lapisan pengalaman.
Batak menjadi salah satu akar.
Yogyakarta menjadi salah satu ruang tumbuh.
Dan kehidupan sosial menjadi medan tempat keduanya bertemu.
Pada akhirnya, “Diri dan Liyan” memperlihatkan bahwa lokalitas tidak selalu harus dipertahankan dengan cara membekukannya. Lokalitas juga dapat hidup melalui perpindahan, dialog, dan perubahan.
Apa yang berasal dari Batak dapat memasuki Yogyakarta tanpa kehilangan seluruh ingatannya. Sebaliknya, pengalaman di Yogyakarta dapat membuat Dhewantara menemukan kembali sesuatu dari Batak yang sebelumnya mungkin terasa biasa karena terlalu dekat.
Di sanalah perjalanan artistiknya menjadi menarik.
Dari Batak menuju seni rupa Yogyakarta bukan berarti meninggalkan satu dunia untuk memasuki dunia yang lain. Ia adalah proses membawa satu dunia ke dalam perjumpaan dengan dunia lainnya—lalu menemukan bahwa di antara keduanya terdapat ruang baru untuk menjadi diri.
Ruang itulah yang kini dibuka Dhewantara melalui “Diri dan Liyan”: sebuah ruang tempat lokalitas, pengalaman sosial, ingatan budaya, dan kehidupan kontemporer bertemu dalam bahasa seni rupa.






