Jakarta — Di tengah meningkatnya kebutuhan energi listrik dan tantangan perubahan iklim, seorang dokter hewan asal Indonesia lulusan Universitas Airlangga membuktikan bahwa inovasi dapat lahir dari tempat yang tidak terduga. Melalui BioVolt, Alfathitamara mengembangkan teknologi yang mengubah limbah ternak menjadi listrik sekaligus menghasilkan pupuk organik.

Inovasi tersebut mengantarkan BioVolt menjadi salah satu dari tiga startup yang terpilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang ClimateLaunchpad APAC Semi-Final, sebuah kompetisi inovasi teknologi iklim tingkat Asia Pasifik yang mempertemukan para inovator dari berbagai negara.

Bagi sebagian besar orang, limbah ternak merupakan persoalan lingkungan yang harus segera disingkirkan. Namun, bagi Alfathitamara, limbah tersebut justru menyimpan potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.

Berangkat dari latar belakangnya sebagai dokter hewan, ia melihat secara langsung bagaimana limbah peternakan dapat memengaruhi kesehatan hewan, kesehatan lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat. Di sisi lain, kebutuhan terhadap sumber energi yang terjangkau dan berkelanjutan terus meningkat dari waktu ke waktu.

Selama bertahun-tahun, limbah peternakan dipandang sebagai masalah yang sulit diselesaikan. Padahal, kotoran ternak menghasilkan gas metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi besar terhadap perubahan iklim. Selain itu, limbah yang tidak dikelola dengan baik juga dapat mencemari tanah dan sumber air serta meningkatkan risiko penyebaran berbagai bakteri, virus, dan parasit.

Persoalan tersebut mendorong lahirnya BioVolt, sebuah sistem biodigester portabel yang dirancang untuk mengolah limbah ternak menjadi biogas. Energi yang dihasilkan kemudian dikonversi menjadi listrik, sementara residu yang tersisa dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik.

Tidak hanya berupaya menyelesaikan persoalan limbah, BioVolt juga mengusung konsep ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali sumber daya yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.

Dari Kedokteran Hewan Menuju Dunia STEM

Perjalanan Alfathitamara menuju dunia inovasi tidak berlangsung secara instan. Sebagai seorang dokter hewan, ia memilih untuk melampaui batas-batas disiplin ilmunya dan memasuki bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Keputusan tersebut berangkat dari keyakinan bahwa tantangan besar tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan keilmuan. Pengembangan teknologi energi terbarukan membutuhkan perpaduan antara pengetahuan ilmiah, kemampuan rekayasa, pemanfaatan teknologi, serta pemahaman mendalam mengenai kebutuhan masyarakat.

Melalui BioVolt, berbagai bidang keilmuan dipadukan menjadi satu kesatuan, mulai dari mikrobiologi, teknologi fermentasi, rekayasa sistem, manajemen limbah, energi terbarukan, hingga pengembangan model bisnis.

Langkah tersebut juga menunjukkan bahwa kedokteran hewan memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi terhadap berbagai persoalan global, termasuk ketahanan energi, keberlanjutan lingkungan, dan pembangunan masyarakat.

Menghadirkan Energi untuk Daerah yang Membutuhkan

Di berbagai belahan dunia, listrik telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, kenyataannya, tidak semua masyarakat memiliki akses yang sama terhadap energi.

Bagi sebagian wilayah, listrik masih menjadi sesuatu yang sulit diperoleh. Keterbatasan infrastruktur, kondisi geografis, serta tingginya biaya distribusi energi menjadi tantangan yang harus dihadapi.

Berangkat dari kenyataan tersebut, BioVolt tidak hanya dikembangkan sebagai teknologi pengolahan limbah, tetapi juga sebagai solusi energi yang dapat diterapkan secara lebih luas.

“Sebagian orang mungkin menganggap listrik sebagai sesuatu yang biasa. Namun, bagi sebagian masyarakat lainnya, listrik masih menjadi sebuah kemewahan. Karena itulah kami membangun BioVolt. Kami berharap suatu hari nanti teknologi ini dapat menjangkau lebih banyak daerah dan menghadirkan sumber energi yang lebih bersih, lebih hemat, serta lebih mudah diakses,” ujar Alfathitamara.

Ia menjelaskan bahwa BioVolt dirancang dengan mempertimbangkan aspek mobilitas dan kemudahan penggunaan sehingga teknologi tersebut dapat diterapkan di berbagai wilayah yang memiliki potensi limbah organik yang melimpah.

“Kami ingin mengubah limbah menjadi sumber daya. Kami juga ingin membuktikan bahwa solusi besar dapat lahir dari sesuatu yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai.”

Melangkah ke Tingkat Asia Pasifik

Komitmen tersebut akhirnya membawa BioVolt menuju panggung internasional. Bersama dua startup lainnya, BioVolt terpilih untuk mewakili Indonesia dalam ajang ClimateLaunchpad APAC Virtual Semi-Final 2026.

Tahap ini menjadi gerbang menuju kompetisi tingkat regional yang akan mempertemukan berbagai startup teknologi iklim dari kawasan Asia Pasifik.

Bagi Alfathitamara, pencapaian tersebut bukanlah garis akhir, melainkan awal dari perjalanan yang lebih panjang.

Ia berharap semakin banyak masyarakat, peneliti, institusi pendidikan, perusahaan, dan pemerintah yang dapat bekerja sama untuk mengembangkan solusi energi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Sebab, di balik setiap inovasi, selalu terdapat satu tujuan besar, yaitu menciptakan kehidupan yang lebih baik bagi manusia, hewan, dan lingkungan.

Dan bagi BioVolt, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah.