GARUT, 8 Agustus 2026 — Apa yang terjadi ketika seorang ayah benar-benar meluangkan waktu untuk bermain bersama anaknya? Di Silamci, Kabupaten Garut, jawabannya hadir dalam tawa, gerak yang tak selalu kompak, dan permainan sederhana yang membuat ayah dan anak saling melihat, mendengar, dan bekerja sama.
Sebanyak 78 peserta mengikuti BERGEMA Berbagi, Bergerak Bersama Ibu Profesional yang diselenggarakan Ibu Profesional Garut dengan dukungan The Human Safety Net Indonesia (THSN) dan Generali, Sabtu (8/8). Kegiatan ini terdiri atas 29 anak, 32 ibu, 12 ayah, dan 5 volunteer.
Di antara berbagai rangkaian kegiatan, “Aku dan Bapakku” menjadi ruang khusus bagi ayah dan anak untuk kembali terhubung melalui permainan.
Bukan Sekadar Bermain
Sesi dimulai dengan permainan Bergerak Bersama melalui lagu Aram Sam Sam. Ayah dan anak bergerak mengikuti irama, tertawa ketika gerakan tak lagi seirama, lalu kembali mencoba bersama.
Permainan kemudian berlanjut dengan Mencari Harta Karun. Ayah dan anak harus membaca petunjuk, berdiskusi, memecahkan tantangan, dan menentukan langkah bersama.
Dalam Merakit Telepon Ajaib, mereka membuat dan merakit telepon sederhana hingga dapat digunakan. Anak mendapat ruang untuk mencoba dan menemukan bahwa dirinya mampu membuat sesuatu, sementara ayah belajar mendampingi tanpa mengambil alih seluruh proses.
Mereka juga bermain Tebak Kata, yang mengajak ayah dan anak memahami pesan melalui ekspresi, gerakan, dan cara berkomunikasi.
Tak berhenti di permainan modern, BERGEMA Garut menghidupkan kembali oray-orayan dan perepet jengkol—permainan tradisional yang mulai jarang dimainkan anak-anak masa kini.
Permainan-permainan tersebut terlihat sederhana. Namun justru di dalam kesederhanaan itu, ada kesempatan bagi ayah untuk hadir sepenuhnya.
UNICEF mencatat bahwa keterlibatan ayah dalam aktivitas bermain dan belajar bersama anak merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan anak. Dalam analisis di 74 negara, UNICEF menemukan bahwa 55 persen anak usia 3–4 tahun tidak terlibat dalam aktivitas bermain atau belajar bersama ayahnya.
Karena itu, satu permainan sederhana bisa menjadi lebih dari sekadar permainan. Ia bisa menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi, kerja sama, rasa percaya diri, dan kedekatan emosional.
“Bonding-nya Terasa Semakin Kuat”
Hal tersebut dirasakan Ali Fahmi, salah satu peserta BERGEMA Garut.
Ia mengaku sudah cukup sering bermain bersama anak. Namun, mengikuti sesi “Aku dan Bapakku” membuat pengalaman tersebut terasa berbeda.
“Bonding bersama anak terasa semakin kuat,” demikian kesan yang ia rasakan setelah mengikuti rangkaian permainan.
Salah satu aktivitas yang paling membekas baginya adalah Merakit Telepon Ajaib. Dari permainan sederhana itu, Ali mendapatkan pemahaman baru tentang bagaimana bermain dapat menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi anak.
Pengalaman berbeda dirasakan Aceng Mutakin, yang hadir bersama istri dan anaknya.
Menurut Aceng, anaknya biasanya kurang tertarik mengikuti kegiatan seperti ini dan cenderung cemberut ketika diajak. Namun di BERGEMA, ia justru melihat anaknya tersenyum dan mengikuti kegiatan dengan antusias.
Pengalaman itu membuat Aceng berharap kegiatan serupa kembali hadir di Garut. Bahkan, ia berharap suatu saat ada kegiatan camping keluarga yang dapat menjadi ruang bagi keluarga untuk bermain dan menikmati kebersamaan lebih lama.
Sementara Usman Firdaus membawa pulang cerita lain. Baginya, perepet jengkol menjadi salah satu permainan paling berkesan.
Permainan yang dulu akrab di masa kecilnya itu kini mulai jarang dimainkan. Ia pun ingin mengenalkannya kembali kepada anak-anak di rumah.
“Sederhana, tetapi menyenangkan,” menjadi gambaran pengalaman yang ia dapatkan dari permainan tradisional tersebut.
Dan bagi Hana, putri Usman, kebahagiaan hari itu ternyata sesederhana satu kata.
“Senang.”
Ketika ditanya permainan yang paling disukainya, Hana memilih oray-orayan.
Dari Lapangan Garut, Dibawa Pulang ke Rumah
Sementara para ayah dan anak bermain, para ibu mengikuti Mom’s Corner, Mini Workshop Pandu 45 bersama Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Mariyanto. Para ibu diajak mengenali potensi, bakat, minat, dan keunggulan anak melalui permainan, diskusi, dan berbagi pengalaman.
Kegiatan juga diisi dengan penyerahan simbolis learning kit dan beasiswa pendidikan dari The Human Safety Net Indonesia kepada siswa-siswi RA Al Anwari Cibunar.
Nuansa lokal turut hadir dalam kegiatan. Iket dan selendang Sunda dikenakan dalam penyambutan Ibu Septi Peni Wulandani dan Bapak Dodik Mariyanto, mempertemukan semangat kebersamaan keluarga dengan identitas budaya Garut.
Namun, yang paling penting dari BERGEMA mungkin bukan apa yang terjadi selama beberapa jam di Silamci.
Melainkan apa yang terjadi setelah keluarga pulang.
Mungkin seorang ayah akan kembali mengajak anaknya bermain. Mungkin permainan perepet jengkol akan kembali dimainkan di rumah. Mungkin sebuah telepon sederhana akan dirakit kembali. Atau mungkin, malam itu seorang anak hanya akan merasa lebih dekat karena bapaknya memilih duduk di sampingnya dan benar-benar mendengarkan.
Sebab BERGEMA bukan sekadar menghadirkan satu hari untuk bermain. BERGEMA ingin menumbuhkan kebiasaan kecil untuk terus hadir, terhubung, dan bertumbuh bersama.
Didukung oleh HADE, Rumah Manset Indonesia, Sarirama Frozen Food, Ruang Ibu, Rempah Abah, Syalna, Kawan Main, dan Myumma Islamic Preschool, serta media partner Tempo, Cantika, Garut Event, Kawan Main, TDA Community Perempuan, dan Rona Sejiwa, BERGEMA Garut menjadi bagian dari perjalanan menghadirkan ruang-ruang bertumbuh bagi keluarga Indonesia.
Dari Silamci, semangat itu kembali dibawa pulang.
Sampai jumpa di BERGEMA kota berikutnya!






