Oleh: Dr. Sodikin, S.Pd, M.Si, M.P.W.K.

(Dosen Magister Studi Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Terbuka dan Pembina Yayasan Lingkungan Hidup Estuari)

Setiap tanggal 26 Juli, dunia memperingati Hari Mangrove Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap salah satu ekosistem penting di kawasan pesisir. Di Indonesia, peringatan ini hampir selalu diwarnai dengan kegiatan penanaman mangrove yang melibatkan pemerintah, perusahaan, perguruan tinggi, komunitas, hingga pelajar. Ribuan bahkan jutaan bibit ditanam setiap tahun sebagai simbol komitmen menjaga lingkungan. Dokumentasi kegiatan pun tersebar luas di media sosial dan media massa.

Namun, di balik semarak penanaman tersebut, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan: berapa banyak mangrove yang benar-benar berhasil tumbuh hingga menjadi hutan?

Pertanyaan ini penting karena keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak diukur dari banyaknya bibit yang ditanam dalam satu hari, melainkan dari banyaknya pohon yang mampu bertahan hidup dan membentuk ekosistem yang berfungsi. Menanam hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya dimulai setelah bibit ditancapkan di lumpur pesisir.

Banyak program rehabilitasi mangrove gagal mencapai tujuan karena lebih berorientasi pada pencapaian target penanaman daripada keberhasilan pertumbuhan. Tidak sedikit bibit yang mati dalam hitungan minggu akibat lokasi yang tidak sesuai, arus yang terlalu kuat, substrat yang tidak cocok, salinitas yang ekstrem, atau karena jenis mangrove yang ditanam bukan merupakan spesies asli kawasan tersebut. Setelah kegiatan selesai, lokasi penanaman sering kali tidak lagi dipantau sehingga kegagalan tersebut luput dari evaluasi. Akibatnya, angka keberhasilan rehabilitasi yang sesungguhnya sering kali jauh lebih rendah daripada angka bibit yang dilaporkan telah ditanam.

Padahal, mangrove bukan sekadar tanaman penghijauan. Mangrove adalah ekosistem yang kompleks. Keberadaannya dipengaruhi oleh dinamika pasang surut, sedimentasi, kualitas air, jenis tanah, hingga interaksi dengan berbagai organisme lain. Karena itu, rehabilitasi mangrove memerlukan pendekatan ilmiah yang mempertimbangkan karakteristik ekologis setiap lokasi. Menanam di tempat yang salah sama artinya dengan membuang sumber daya tanpa menghasilkan manfaat lingkungan.

Lebih jauh lagi, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya ditentukan oleh faktor alam, tetapi juga oleh komitmen pengelolaan setelah penanaman. Bibit yang baru ditanam membutuhkan pemeliharaan, penggantian tanaman yang mati, perlindungan dari gangguan manusia maupun ternak, serta pemantauan secara berkala. Tanpa tahapan tersebut, penanaman hanya menjadi kegiatan sesaat yang menghasilkan foto dokumentasi, bukan hutan mangrove yang mampu melindungi pesisir. Ironisnya, dalam banyak program, anggaran sering kali lebih besar dialokasikan untuk kegiatan penanaman dibandingkan untuk pemeliharaan. Padahal, biaya pemeliharaan selama dua atau tiga tahun justru menjadi faktor yang menentukan apakah investasi rehabilitasi akan berhasil atau gagal. Paradigma inilah yang perlu diubah.

Hari Mangrove Sedunia seharusnya menjadi momentum untuk menggeser indikator keberhasilan. Sudah saatnya keberhasilan rehabilitasi diukur berdasarkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) tanaman setelah satu, dua, bahkan lima tahun, bukan hanya jumlah bibit yang ditanam pada hari pelaksanaan. Indikator lain seperti peningkatan tutupan mangrove, pemulihan habitat satwa, kemampuan menyimpan karbon, serta manfaat ekonomi bagi masyarakat juga perlu menjadi bagian dari evaluasi. Kemajuan teknologi sebenarnya telah membuka peluang besar untuk meningkatkan kualitas rehabilitasi. Penginderaan jauh menggunakan citra satelit, drone, dan Sistem Informasi Geografis (SIG) memungkinkan perubahan tutupan mangrove dipantau secara berkala. Bahkan saat ini, teknologi kecerdasan buatan mulai dimanfaatkan untuk mengidentifikasi area yang memiliki peluang keberhasilan rehabilitasi paling tinggi. Dengan pendekatan berbasis data, kegiatan penanaman tidak lagi dilakukan sekadar menghabiskan bibit, tetapi benar-benar diarahkan pada lokasi yang memiliki peluang hidup optimal.

Di sisi lain, keberhasilan rehabilitasi sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat pesisir. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa kawasan mangrove yang dikelola bersama masyarakat memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dibandingkan program yang hanya mengandalkan pendekatan proyek. Ketika masyarakat memperoleh manfaat nyata, baik melalui perikanan, ekowisata, hasil hutan bukan kayu, maupun skema ekonomi karbon, mereka akan menjadi penjaga pertama yang memastikan mangrove tetap lestari.

Indonesia memiliki sekitar seperlima dari luas mangrove dunia. Posisi ini bukan hanya sebuah kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar. Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, kenaikan muka air laut, abrasi pantai, dan cuaca ekstrem, mangrove merupakan benteng alami yang melindungi jutaan masyarakat pesisir. Kehilangan mangrove berarti kehilangan perlindungan terhadap bencana, sumber penghidupan, keanekaragaman hayati, dan cadangan karbon yang sangat berharga.

Karena itu, Hari Mangrove Sedunia hendaknya tidak lagi dimaknai sebagai perlombaan menanam bibit terbanyak. Yang jauh lebih penting adalah memastikan setiap bibit memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pohon, setiap pohon berkembang menjadi hutan, dan setiap hutan mampu menjalankan fungsi ekologisnya bagi kehidupan. Pada akhirnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak ditentukan oleh berapa banyak tangan yang menanam dalam sehari, melainkan oleh seberapa besar komitmen kita untuk menjaga kehidupan yang tumbuh setelahnya. Sebab, mangrove tidak membutuhkan seremoni setiap tahun; mangrove membutuhkan komitmen yang berlangsung sepanjang waktu.