BANDA ACEH – Di tengah perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju, Al-Qur’an tetap menyimpan banyak inspirasi yang relevan bagi dunia sains modern. Salah satu di antaranya terdapat dalam Surah Al-Ghasyiyah ayat 17–20 yang mengajak manusia untuk memperhatikan unta, langit, gunung, dan bumi sebagai tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala sekaligus Plt. Kepala Bagian Reputasi Universitas Syiah Kuala, Prof. Dr. drh. Muslim Akmal, M.P., menilai bahwa rangkaian ayat tersebut sesungguhnya mengandung pesan ilmiah yang sangat mendalam tentang pentingnya observasi dalam memahami alam semesta.

“Yang menarik, Allah SWT tidak langsung meminta manusia untuk menyimpulkan sesuatu. Allah terlebih dahulu mengajak manusia untuk memperhatikan, mengamati, dan merenungkan. Di sinilah fondasi berpikir ilmiah sebenarnya dimulai,” ungkap Prof. Muslim Akmal.

Dalam Surah Al-Ghasyiyah ayat 17–20, Allah SWT berfirman:

“Maka tidakkah mereka memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan?”

Menurut Prof. Muslim, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk menggunakan akal dan kemampuan berpikir dalam memahami tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang tersebar di seluruh alam.

“Dalam dunia sains modern, setiap penemuan besar selalu diawali oleh observasi. Para ilmuwan mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan, lalu mencari jawaban. Menariknya, semangat yang sama telah diajarkan Al-Qur’an sejak lebih dari empat belas abad yang lalu,” jelasnya.

Unta dan Keajaiban Adaptasi Biologis

Prof. Muslim menjelaskan bahwa objek pertama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah unta, hewan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Arab ketika Al-Qur’an diturunkan.

Menurutnya, pemilihan unta bukanlah sesuatu yang kebetulan.

“Sering kali manusia mencari keajaiban pada sesuatu yang jauh, padahal keajaiban itu berada tepat di hadapannya. Unta adalah contoh yang sangat menarik,” katanya.

Sebagai akademisi di bidang kedokteran hewan, Prof. Muslim menilai bahwa unta merupakan salah satu contoh adaptasi biologis yang luar biasa.

“Unta mampu bertahan hidup dalam lingkungan gurun yang sangat keras. Hewan ini memiliki mekanisme pengaturan suhu tubuh yang unik, efisiensi penggunaan air yang sangat baik, serta berbagai adaptasi fisiologis yang hingga kini masih menjadi objek penelitian ilmiah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa semakin banyak penelitian dilakukan terhadap unta, semakin tampak kompleksitas sistem biologis yang dimilikinya.

“Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan sering kali dimulai dari kemampuan menghargai hal-hal yang tampak biasa,” tambahnya.

Langit dan Kerendahan Hati Ilmuwan

Setelah mengajak manusia memperhatikan makhluk hidup, Al-Qur’an kemudian mengarahkan pandangan ke langit.

Prof. Muslim mengatakan bahwa perkembangan astronomi modern justru semakin memperlihatkan betapa luasnya alam semesta.

“Dahulu manusia hanya melihat bintang-bintang di langit malam. Kini kita mengetahui bahwa terdapat miliaran galaksi yang masing-masing berisi miliaran bintang. Namun semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula misteri yang belum terjawab,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa hingga saat ini para ilmuwan masih berusaha memahami berbagai fenomena seperti materi gelap, energi gelap, serta asal-usul alam semesta.

“Semakin jauh manusia memandang langit, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya dan betapa luas ciptaan Allah SWT,” ungkapnya.

Dalam konteks tersebut, Prof. Muslim mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Mulk ayat 3–4:

“Dialah yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan engkau lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah engkau lihat sesuatu yang cacat? Kemudian ulangi pandanganmu sekali lagi dan sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan dalam keadaan letih.”

Gunung dan Makna Sebuah Proses

Pada bagian berikutnya, Al-Qur’an mengajak manusia memperhatikan gunung-gunung yang ditegakkan.

Menurut Prof. Muslim, ilmu geologi modern menunjukkan bahwa gunung terbentuk melalui proses yang sangat panjang dan dinamis.

“Gunung terlihat kokoh dan stabil. Namun di balik keteguhan itu terdapat proses geologi yang berlangsung selama jutaan tahun. Ini memberikan pelajaran bahwa sesuatu yang besar tidak lahir secara instan,” ujarnya.

Ia menilai bahwa gunung mengajarkan pentingnya kesabaran, ketekunan, dan konsistensi dalam membangun kehidupan maupun institusi.

“Keteguhan selalu dibangun melalui proses yang panjang,” katanya.

Bumi, Rumah Kehidupan yang Istimewa

Objek terakhir yang disebutkan dalam Surah Al-Ghasyiyah adalah bumi.

Menurut Prof. Muslim, banyak orang menganggap bumi sebagai sesuatu yang biasa karena hidup di atasnya setiap hari. Padahal dari perspektif ilmiah, bumi merupakan sistem yang sangat kompleks dan luar biasa.

“Bumi memiliki jarak yang tepat dari matahari, atmosfer yang melindungi kehidupan, ketersediaan air, serta berbagai siklus ekologis yang menopang keberlangsungan makhluk hidup. Semua ini menunjukkan betapa istimewanya tempat tinggal yang telah Allah SWT sediakan bagi manusia,” jelasnya.

Berpikir dan Berzikir Berjalan Beriringan

Lebih lanjut, Prof. Muslim menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak pernah mempertentangkan antara ilmu pengetahuan dan keimanan.

Ia mengutip firman Allah SWT dalam Surah Ali ‘Imran ayat 190:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.”

“Dalam perspektif Islam, berpikir dan berzikir bukan dua hal yang saling bertentangan. Keduanya justru saling melengkapi. Sains membantu kita memahami bagaimana alam bekerja, sementara keimanan membantu kita memahami makna di balik keteraturan tersebut,” tutur Prof. Muslim.

Semakin Banyak Tahu, Semakin Rendah Hati

Menurut Prof. Muslim, salah satu pelajaran terpenting dari perkembangan ilmu pengetahuan modern adalah kesadaran bahwa manusia sesungguhnya masih mengetahui sangat sedikit dibandingkan keluasan ilmu Allah SWT.

Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra’ ayat 85:

“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”

“Semakin banyak yang kita ketahui, semakin tampak betapa luas wilayah yang belum kita pahami. Karena itu, ilmu pengetahuan seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan,” tegasnya.

Di akhir refleksinya, Prof. Muslim mengajak masyarakat untuk menjadikan alam sebagai ruang pembelajaran yang tidak pernah habis untuk dikaji.

“Unta, langit, gunung, dan bumi adalah bagian dari ayat-ayat Allah SWT yang dapat dibaca melalui pengamatan, penelitian, dan perenungan. Semakin jauh manusia menjelajahi ilmu pengetahuan, semakin banyak alasan untuk bersyukur, kagum, dan merendahkan diri di hadapan Allah SWT,” pungkas Prof. Muslim Akmal.