Marwan Sholeh, sebagai Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Sekolah Pascasarjana Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, sekaligus Manager Unit Layanan di Salah satu Perusahaan Terkemuka di Indonesia, melihat bahwa persoalan organisasi sebaiknya tidak hanya dibicarakan sebagai keluhan, tetapi juga sebagai bahan pembelajaran. Di bawah bimbingan Dr. Richa Afriana Munthe, S.E., M.M., Marwan Sholeh mencoba membaca pengalaman kerjanya dengan sudut pandang manajemen yang lebih tertata.

“Isu yang saya angkat berkaitan dengan budaya organisasi. Dalam pengamatan saya, persoalannya terlihat ketika dengan dalih loyalitas, pegawai diminta siap bekerja kapan pun. Akibatnya, waktu libur terganggu dan jam kerja tidak lagi terbatas pada delapan jam kerja normal,” katanya. Ia menegaskan bahwa isu ini perlu disampaikan dengan bahasa yang hati-hati, karena tujuan utamanya bukan mencari kesalahan, melainkan mencari jalan perbaikan.

Menurut Marwan Sholeh, akar masalahnya berkaitan dengan perubahan budaya perusahaan dan dorongan efisiensi. Jadi, persoalan ini perlu dilihat sebagai rangkaian sebab-akibat di dalam organisasi.

Dampak yang muncul adalah: (1) bagi perusahaan, biaya lembur dapat ditekan; (2) bagi karyawan, waktu istirahat menjadi tidak teratur dan semua hari terasa seperti hari kerja; serta (3) bagi proses kerja, pekerjaan dan pengawasan dapat menjadi kurang maksimal karena faktor kelelahan.

Untuk memperkuat gagasannya, Marwan Sholeh mengaitkan persoalan tersebut dengan Field Theory, Stakeholder Theory, Structural Contingency Theory, dan Transaction Cost Theory. Field Theory membantu menjelaskan adanya tarik-menarik kekuatan dalam organisasi, yaitu antara dorongan efisiensi dan loyalitas di satu sisi dengan kebutuhan pemulihan tenaga, kesehatan kerja, dan batas kewajaran beban kerja di sisi lain.

Stakeholder Theory menunjukkan bahwa keputusan memperpanjang kesiapan kerja tidak hanya berdampak pada perusahaan, tetapi juga pada pegawai, keluarga pegawai, pelanggan, serta kualitas pelayanan publik yang diterima masyarakat. Structural Contingency Theory menegaskan bahwa pola kerja dan struktur pengawasan harus disesuaikan dengan tuntutan operasional, kapasitas SDM, beban layanan, serta kondisi lapangan agar tidak memaksakan satu pola kerja yang sama untuk semua situasi. Transaction Cost Theory membantu melihat bahwa penghematan biaya lembur belum tentu benar-benar efisien jika menimbulkan biaya tersembunyi, seperti kelelahan, kesalahan kerja, penurunan kualitas pelayanan, kebutuhan pengawasan tambahan, dan potensi turunnya motivasi pegawai.

Mengenai solusi yang paling realistis, Marwan Sholeh menjawab bahwa perbaikan harus dilakukan secara bertahap.

“Saya melihat solusinya adalah memperbaiki komunikasi, memperjelas SOP, memperkuat kompetensi SDM, membangun kolaborasi, dan melakukan evaluasi berbasis data. Yang penting, solusi itu dijalankan dengan komunikasi yang baik, tidak memojokkan siapa pun, dan bisa diterima oleh orang-orang yang terlibat di dalam organisasi,” ungkapnya.

Melihat isu ini sebagai masyarakat, praktisi, dan peneliti ilmu manajemen, Dr. Chandra menilai gagasan Marwan Sholeh penting karena menyentuh keseimbangan antara efisiensi organisasi dan batas kewajaran beban kerja. Ia mendorong agar pembahasan dilengkapi data jam kerja, tingkat kelelahan, produktivitas, kualitas pelayanan, serta biaya tersembunyi akibat penurunan kinerja. Dengan demikian, narasi perbaikan dapat diarahkan pada budaya kerja yang tetap produktif tanpa mengabaikan kesehatan, hak istirahat, kepentingan pemangku kepentingan, dan keberlanjutan kinerja pegawai.

Referensi : Field Theory; Stakeholder Theory; Structural Contingency Theory; Transaction Cost Theory

Penulis : 

Marwan Sholeh
NIM. 2561101148
Program S2 Universitas Lancang Kuning Pekanbaru