DAILY NUSANTARA, MAGETAN — Sutradara Opera Tirta Amarta, Danar Hendrat Moko, merefleksikan pementasan inklusif yang memukau ratusan penonton di area parkir Telaga Sarangan, Kabupaten Magetan silam. Melalui panggung tersebut, para seniman lintas generasi dan penyandang disabilitas bersatu menghidupkan legenda lokal lewat paduan gerak, musik, dan narasi yang emosional.
“Budaya adalah milik semua orang, dan seni tak pernah mengenal keterbatasan. Hakikat kehidupan adalah harmoni antara manusia dan semesta, dan itulah roh utama dari pementasan kami,” kenang Danar saat memberikan pernyataan reflektifnya pada Jumat (23/10/2026).
Pementasan Opera Tirta Amarta (11/7) tersebut secara khusus mengangkat kisah Kyai dan Nyai Pasir yang lekat dengan asal-usul Telaga Sarangan. Melalui balutan koreografi apik garapan Gentha Haryogi dan komposisi musik dari Setyaji, pertunjukan ini mendramatisasi perjalanan manusia lewat adegan transformasi wujud Kyai Pasir menjadi naga raksasa. Cerita ini menjadi sentilan keras bagi sifat manusia modern yang kian menjauh dari keseimbangan alam.

Danar menegaskan bahwa pesan kesadaran lingkungan menjadi inti dari lakon tersebut. “Sebab, ketika manusia kembali merendahkan hati di hadapan semesta, air akan tetap mengalir sebagai amarta. Telaga Sarangan adalah air abadi yang tak pernah berhenti menghidupi lintas generasi,” paparnya.
Lebih lanjut, Danar menyoroti peran krusial dukungan pemerintah yang membangkitkan kualitas ekosistem seni di daerah. “Pergelaran ini terealisasi berkat pemanfaatan Dana Indonesia Raya tahun 2025. Melalui kolaborasi strategis antara Kementerian Kebudayaan RI dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) pada kategori Penciptaan Karya Kreatif dan Inovatif, dukungan ini menjadi pendorong bangkitnya seni pertunjukan lokal ke tingkat yang lebih tinggi,” ungkap sang sutradara.
Selain menyuguhkan pementasan visual, pergelaran kala itu juga berfokus pada edukasi dan regenerasi. Sebelum acara puncak, pihak penyelenggara mengadakan sesi “Talkshow & Bedah Karya” yang melibatkan puluhan pelajar se-Kabupaten Magetan untuk membedah proses kreatif di balik layar. Antusiasme masyarakat yang membeludak, membuktikan tingginya kerinduan publik terhadap suguhan budaya yang edukatif dan inklusif.




