Penulis: Amanda Nurahmad, UPN “VETERAN” YOGYAKARTA, Prodi Ilmu Tanah

YOGYAKARTA – Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, dan juga menjadi sumber penghidupan bagi warga yang bermukim di lerengnya. Letusan yang terjadi selama bertahun-tahun telah mengendapkan material vulkanik dalam jumlah besar dan membentuk tanah berjenis Andosol yang dikenal sangat subur. Tanah vulkanik ini menjadi pondasi utama bagi kegiatan pertanian di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Namun di balik kesuburan tanah dan kegiatan pertanian tersebut terdapat aktivitas penambangan pasir yang berlangsung secara terus-menerus, terutama setelah terjadinya erupsi besar pada tahun 2010 yang kini menimbulkan kekhawatiran terhadap kesuburan tanah dan keberlanjutan fungsi ekologis pada lereng gunung Merapi.

Penambangan pasir merupakan aktivitas masyarakat pada lereng Gunung Merapi selain kegiatan pertanian tersebut. Material pasir Merapi memiliki nilai ekonomi yang tinggi sehingga aktivitas penambangan pasir ini dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat dan juga untuk menyediakan bahan bangunan. Namun penambangan pasir yang dilakukan secara terus-menerus dan tidak terkendali dapat menimbulkan kerusakan lingkungan terutama pada kesuburan tanah.

Proses pengerukan pasir menyebabkan lapisan tanah atas akan terangkat sehingga kandungan unsur hara dan bahan organik tanah akan berkurang. Akibatnya tingkat kesuburan tanah tersebut akan menurun dan lahan menjadi kurang baik untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu penambangan pasir juga dapat menyebabkan erosi, longsor, berkurangnya daya resap air, serta kerusakan ekosistem di sekitar lereng Merapi.

Tanah vulkanik seperti pada lereng gunung Merapi memiliki tingkat kesuburan yang baik. tanah vulkanik menjadi subur bagi pertumbuhan tanaman yang disebabkan oleh bahan piroklastik hasil erupsi yang mengandung mineral alofan kemudian berkembang menjadi pilosilikat kaolinit dan smektit yang menyebabkan tanah memiliki KPK yang tinggi (Purwanto et al., 2018). tanah andosol merupakan tanah dengan kandungan bahan organik dan mineral primer yang belum sepenuhnya terlapuk sehingga mampu memasok unsur hara bagi tanaman secara berkelanjutan. Tanah dengan bahan induk vulkanik memiliki tingkat kesuburan yang relatif tinggi meskipun terletak di lahan berlereng (Gani et al., 2021). Kondisi tersebut yang selama ini menopang kegiatan pertanian pada lereng gunung Merapi serta menjadikan sumber pendapatan bagi masyarakat sekitar

Dampak langsung dari penambangan pasir adalah kerusakan pada sifat fisik tanah. Ketika lapisan tanah atas diambil maka struktur tanah yang telah terbentuk selama puluhan hingga ratusan tahun menjadi hancur. Pemadatan tanah akibat lalu lintas kendaraan berat akan menyebabkan peningkatan bulk density, pengurangan porositas, serta turunnya permeabilitas kondisi yang secara langsung akan menghambat aliran air dan udara di dalam tanah (Hartanto et al., 2022). Hilangnya vegetasi penutup akibat kegiatan penambangan menyebabkan proses erosi berlangsung lebih cepat. Penelitian di Desa Keningar, Kabupaten Magelang, menemukan bahwa laju erosi di kawasan tambang pasir lereng Merapi sudah melebihi ambang batas toleransi yang mengakibatkan hilangnya lapisan tanah yang menjadikan bagian paling produktif (Yudhistira et al., 2011). Sejumlah penelitian mengenai degradasi lahan bekas tambang menunjukkan bahwa perubahan lingkungan terlebih pada lahan pertanian yang disebabkan oleh aktivitas penambangan berkaitan langsung dengan penurunan produktivitas tanah. Hal tersebut terjadi karena proses erosi akan mengikis lapisan tanah yang banyak mengandung unsur hara dan bahan organik pada tanah (Rianto 2023).

Selain menyebabkan kerusakan fisik aktivitas penambangan pasir juga menimbulkan penurunan kualitas kimia tanah yang cukup serius. Pengangkatan lapisan tanah pada bagian atas akan mengakibatkan berkurangnya kandungan bahan organik yang berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah secara kimia. Bahan organik memiliki fungsi penting sebagai penyedia unsur hara, meningkatkan Kapasitas Pertukaran Kation (KPK), serta membantu mempertahankan pH tanah agar tetap optimal untuk pertumbuhan pada tanaman (Pramaditya et al., 2022). Hal tersebut menjelaskan bahwa penambangan pasir yang tidak terkendali akan menyebabkan degradasi ekosistem tanah, termasuk gangguan pada siklus hara dan kualitas tanah secara keseluruhan. Kondisi ini memperparah penurunan produktivitas lahan pertanian di sekitar kawasan tambang yang pada akhirnya akan menganggu kegiatan pertanian.

Dampak penambangan pasir tersebut tidak hanya terjadi pada kondisi fisik dan kimia saja namun juga berdampak pada fungsi ekologis yang lebih besar dan jangka waktu yang cukup panjang. Hilangnya keanekaragaman hayati seperti flora maupun fauna akibat aktivitas penambangan juga turut merusak proses dekomposisi bahan organik yang menjadi hal penting dalam kesuburan tanah. Tanpa adanya mikroorganisme tanah yang baik proses mineralisasi unsur hara menjadi terganggu sehingga tanah kehilangan kemampuan alaminya untuk mempertahankan kesuburannya. Selain itu perubahan topografi akibat aktivitas penggalian pasir dapat meningkatkan potensi longsor dan banjir lahar yang kemudian berdampak pada kerusakan lahan pertanian di wilayah bawah lereng. Penelitian di kawasan Gunung Merapi, Kabupaten Sleman menunjukkan bahwa kegiatan penambangan pasir yang dilakukan secara terus-menerus menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati serta perubahan kondisi topografi secara permanen (Salsabil et al., 2024). Dampak buruknya meskipun penambangan pasir mendatangkan manfaat ekonomi jangka pendek bagi sebagian warga kerugian ekologis jangka panjang yang ditanggung termasuk penurunan kesuburan tanah jauh lebih besar dan akan sulit untuk dipulihkan.

Penambangan pasir di lereng Gunung Merapi memberikan dampak yang serius terhadap kesuburan tanah. Secara fisik penambangan pasir dapat merusak struktur tanah dan meningkatkan erosi. Secara kimia penambangan pasir dapat menghilangkan kandungan bahan organik dan unsur hara, selain itu secara ekologis juga akan mengganggu keanekaragaman hayati yang dapat membantu proses alami terhadap kesuburan tanah. Tanah Andosol yang terbentuk dari material vulkanik Merapi merupakan kekayaan alam yang dalam proses pembentukkannya memerlukan waktu ratusan tahun sehingga kerusakan yang terjadi dalam hitungan tahun ini akan sangat sulit untuk dipulihkan. Penambangan pasir yang tidak terkendali di lereng Merapi merupakan ancaman nyata terhadap kesuburan tanah dan keberlangsungan pertanian di kawasan tersebut. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk penerapan aturan dalam proses pertambangan yang lebih ketat untuk kewajiban reklamasi lahan pasca tambang serta program pemulihan kesuburan tanah melalui penghijauan dan penambahan bahan organik. Peran pemerintah daerah dan masyarakat perlu didorong untuk mengembangkan alternatif ekonomi yang berkelanjutan agar ketergantungan pada penambangan pasir dapat dikurangi secara bertahap. Kegiatan pertanian lereng gunung Merapi di masa depan sangat bergantung pada keputusan yang diambil hari ini.