Daily Nusantara, Jakarta – Yayasan Suara Quran Indonesia (YSQI) menyampaikan keprihatinan mendalam atas kasus kekerasan jalanan yang diduga melibatkan kelompok geng motor di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena menimbulkan korban luka dan dilaporkan berujung pada meninggalnya seorang remaja.
Pembina Yayasan Suara Quran Indonesia, Ust Sahlan Rafiqi, menegaskan bahwa aksi kekerasan yang mengancam keselamatan masyarakat tidak boleh dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Menurutnya, persoalan ini membutuhkan perhatian serius dari aparat penegak hukum, pemerintah daerah, keluarga, lembaga pendidikan, serta tokoh agama dan masyarakat.
“Kami sangat prihatin atas peristiwa kekerasan yang terjadi di Mataram. Jika kelompok anak muda sudah menggunakan senjata tajam, melakukan penyerangan, bahkan sampai mengakibatkan hilangnya nyawa, ini bukan lagi persoalan sepele. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas bersama,” ujar Sahlan Rafiqi dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Ia menekankan bahwa keberanian tidak seharusnya diukur dari kemampuan seseorang menakut-nakuti atau melukai orang lain. Sebaliknya, keberanian harus diwujudkan melalui sikap bertanggung jawab, pengendalian diri, serta kemampuan menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat.
“Jalanan bukan arena untuk menunjukkan kekuatan. Membawa senjata tajam bukan simbol kejantanan. Jangan sampai generasi muda kehilangan masa depan hanya karena salah pergaulan, dorongan kelompok, dan tindakan kekerasan yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
YSQI Dorong Penegakan Hukum dan Pencegahan
Sahlan meminta aparat kepolisian mengusut kasus tersebut secara tuntas, mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab berdasarkan bukti, serta memproses setiap pelaku sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Ia juga mendorong pemerintah daerah bersama aparat keamanan meningkatkan upaya pencegahan, terutama di lokasi yang dinilai rawan terjadi kekerasan jalanan. Menurutnya, langkah penindakan perlu diiringi dengan program pembinaan generasi muda yang berkelanjutan.
“Penegakan hukum harus berjalan tegas dan adil. Namun, kita juga harus mencari akar persoalannya. Anak-anak muda membutuhkan lingkungan yang sehat, pendidikan karakter, pendampingan keluarga, serta ruang untuk menyalurkan energi mereka melalui kegiatan yang positif,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa tanggung jawab membina generasi muda tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah atau aparat keamanan. Orang tua, lingkungan pergaulan, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, dan lembaga keagamaan harus mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Pendidikan Al-Qur’an Harus Melahirkan Akhlak
Sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang dakwah dan pendidikan Al-Qur’an, YSQI memandang bahwa penguatan nilai agama harus diwujudkan dalam perilaku nyata, termasuk menghormati kehidupan manusia, mengendalikan emosi, dan tidak menyakiti sesama.
Sahlan mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Ma’idah ayat 32:
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا
“Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 32).
Menurutnya, pendidikan Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca dan menghafal ayat, tetapi juga harus membentuk akhlak, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap keselamatan orang lain.
“Jangan sampai generasi muda dekat dengan simbol-simbol agama, tetapi perilakunya justru jauh dari nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap kehidupan. Kita ingin anak-anak muda tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan memberikan rasa aman bagi lingkungannya,” tambahnya.
Ajak Masyarakat Bergerak Bersama
YSQI juga mengajak masyarakat untuk tidak melakukan tindakan main hakim sendiri, tidak menyebarkan identitas atau tuduhan yang belum terverifikasi, serta menyerahkan penanganan perkara kepada aparat yang berwenang.
Sahlan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Jangan menunggu korban berikutnya untuk mulai bergerak. Mari kita bangun kepedulian bersama, perkuat pendidikan keluarga, hidupkan kembali pembinaan generasi muda, dan dukung penegakan hukum yang adil. Mataram harus menjadi tempat yang aman bagi seluruh masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda,” tutupnya.






