Penulis : Nadine Hizbina A. P. F.
Daily Nusantara, Opini – Sebatang cokelat mungkin tampak sebagai produk sederhana, tetapi rantai produksi di baliknya menyimpan persoalan ketimpangan yang kompleks. Ghana dan Côte d’Ivoire menghasilkan hampir setengah kakao dunia, namun jutaan petani di kedua negara tersebut masih hidup dalam kemiskinan struktural. Situasi ini berkaitan langsung dengan persoalan pekerja anak yang selama dua dekade terakhir terus melekat pada industri cokelat global.
Laporan International Labour Organization (ILO) dan UNICEF mencatat sekitar 138 juta anak di dunia masih terlibat dalam child labour dan 54 juta di antaranya bekerja dalam kondisi berbahaya (ILO & UNICEF, 2025). Di wilayah Ghana dan Côte d’Ivoire sendiri, diperkirakan terdapat sekitar 1,56 juta anak yang terlibat dalam pekerjaan anak di sektor kakao (Tony’s Chocolonely, 2025). Angka tersebut menunjukkan bahwa eksploitasi tenaga kerja dalam industri kakao berkaitan erat dengan struktur perdagangan global yang tidak adil.
Tony’s Chocolonely hadir dengan pendekatan perdagangan etis untuk merespons berbagai persoalan tersebut. Perusahaan asal Belanda yang berdiri sejak 2005 ini memiliki misi untuk mengakhiri eksploitasi dalam rantai pasok kakao dan telah memperoleh sertifikasi B Corp sebagai komitmennya terhadap standar sosial dan lingkungan. Tony’s Chocolonely mencoba menerapkan prinsip ethical trade melalui model bisnis yang berfokus pada kesejahteraan petani. Menurut International Cocoa Organization (ICCO), Côte d’Ivoire dan Ghana menghasilkan sekitar 2,28 juta ton dari total produksi kakao dunia yang diproyeksikan mencapai 4,7 juta ton pada musim 2024/2025. Meski menjadi pemasok utama kakao dunia, petani di kedua negara tersebut masih menghadapi kemiskinan yang berkaitan erat dengan pekerja anak dan deforestasi. Untuk menjawab persoalan tersebut, Tony’s menerapkan lima sourcing principles yang menekankan transparansi rantai pasok, harga yang lebih adil, penguatan koperasi, dan kemitraan jangka panjang. Salah satu pilar utamanya adalah traceable beans, sistem yang memungkinkan 100% kakao perusahaan ditelusuri hingga tingkat koperasi dan petani (Tony’s Chocolonely, 2025).
Selain transparansi, strategi utama Tony’s terletak pada pembayaran harga yang lebih tinggi melalui Living Income Reference Price (LIRP). Meskipun seluruh kakao mereka bersertifikasi Fairtrade, mereka membayar berbagai premium tambahan di luar harga pasar dan Fairtrade premium. Berdasarkan Annual FAIR Report 2024/25, perusahaan menyatakan petani Côte d’Ivoire dalam main crop memperoleh tambahan hingga €675,51 per ton, sedangkan petani Ghana menerima tambahan hingga €298,66 per ton (Tony’s Chocolonely, 2025). Secara keseluruhan, Tony’s Chocolonely menyalurkan premium sebesar €7.033.727 kepada petani dalam jaringan Open Chain.
Berbeda dari banyak program keberlanjutan perusahaan besar lainnya, Tony’s memandang pekerja anak dan deforestasi sebagai persoalan yang berkaitan dengan kemiskinan struktural petani kakao. Pendekatan ini berbeda dari praktik sustainability branding konvensional karena perusahaan berupaya mengintegrasikan tujuan etis ke dalam model bisnis dan rantai pasoknya secara langsung (Beacom, 2024). Dampak pendekatan tersebut mulai terlihat dalam hasil living income benchmark perusahaan. Secara keseluruhan, baru 19,1% petani dalam jaringan Tony’s yang berhasil mencapai standar living income. Namun pada tiga koperasi mitra terlama Tony’s di Ghana dan Côte d’Ivoire, persentasenya meningkat menjadi 40,6% (Tony’s Chocolonely, 2025). Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan dagang jangka panjang memang berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Tony’s juga membangun hubungan jangka panjang dengan 22 koperasi mitra yang mencakup lebih dari 32 ribu petani di Ghana dan Côte d’Ivoire. Dalam Annual FAIR Report 2024/25, perusahaan bahkan membayar cooperative management fees sebesar €1,23 juta untuk memperkuat kapasitas organisasi koperasi, mulai dari pengumpulan data hingga implementasi program keberlanjutan (Tony’s Chocolonely, 2025). Bagi petani kakao, koperasi menjadi salah satu cara penting untuk meningkatkan posisi tawar di tengah dominasi perusahaan cokelat global.
Terkait isu pekerja anak, Tony’s menggunakan Child Labour Monitoring and Remediation System (CLMRS) untuk mendeteksi dan menangani kasus pekerja anak di komunitas petani mereka. Pada 2024/25, sistem ini mencakup 33.426 rumah tangga dan memantau 66.775 anak di Ghana serta Côte d’Ivoire (Tony’s Chocolonely, 2025). Dari proses monitoring tersebut ditemukan 3.448 kasus pekerja anak dan 813 kasus berhasil diremediasi.
Menariknya, Tony’s tidak berfokus pada sekadar menurunkan angka pekerja anak demi citra perusahaan. Bagi mereka, meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan seringkali menunjukkan bahwa sistem deteksi bekerja lebih baik. Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi systemic change yang berusaha memperbaiki akar masalah, bukan sekadar memenuhi indikator keberlanjutan formal (Ruiter, 2025). Hasilnya terlihat pada koperasi mitra jangka panjang, prevalensi pekerja anak turun hingga 4%, sementara pada koperasi baru masih mencapai 13% (Tony’s Chocolonely, 2025). Ini menunjukkan bahwa intervensi jangka panjang memang memiliki dampak nyata, meskipun belum sepenuhnya menghapus praktik pekerja anak.
Tony’s juga menghubungkan perdagangan etis dengan isu lingkungan, terutama deforestasi di Afrika Barat. Pada 2024/25, perusahaan melaporkan bahwa 99,99% kakao mereka telah bebas deforestasi. Dari 87 potensi kasus yang terdeteksi melalui monitoring satelit dan pemetaan GPS, hanya dua kasus yang terkonfirmasi dan seluruhnya telah diremediasi (Tony’s Chocolonely, 2025). Strategi ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan petani dipandang sebagai bagian penting dari solusi lingkungan.
Meski demikian, keberhasilan Tony’s Chocolonely perlu dilihat secara kritis. Dalam perspektif Global Value Chain, perusahaan ini memang berhasil meningkatkan kesejahteraan sebagian petani, tetapi belum mampu mengubah struktur industri kakao yang timpang. Sebagian besar keuntungan masih terkonsentrasi pada perusahaan merek, retailer, dan konsumen di Global North. Berbagai voluntary sustainability standards memang dapat meningkatkan pendapatan petani, tetapi distribusi nilai tambah global tetap sangat timpang (Romano, 2026).
Di sisi lain, Tony’s tetap harus beroperasi dalam pasar global yang kompetitif. The Grocer (2022) melaporkan Tony’s menurunkan harga batang cokelat mereka di Inggris untuk memperluas pasar dan mengurangi kesenjangan harga dengan merek lain. Situasi tersebut menunjukkan bahwa bahkan perusahaan dengan misi sosial kuat tetap harus berhadapan dengan tekanan harga dan persaingan pasar.
Tony’s Chocolonely memperlihatkan bahwa praktik perdagangan etis memang dapat menciptakan perubahan nyata bagi sebagian petani kakao di Ghana dan Côte d’Ivoire. Melalui pembayaran premium, hubungan jangka panjang dengan koperasi, transparansi rantai pasok, dan CLMRS, perusahaan dapat menjadi salah satu contoh praktik perdagangan etis dalam industri cokelat global. Namun, pengalaman ini juga menunjukkan bahwa upaya perusahaan saja tidak cukup untuk mengatasi ketimpangan dalam rantai nilai kakao. Diperlukan dukungan kebijakan yang mendorong transparansi rantai pasok, perlindungan pendapatan petani, serta pembagian nilai yang lebih adil antara produsen dan perusahaan global. Selama kontrol terhadap branding, distribusi, dan akses pasar masih didominasi perusahaan besar di negara maju, perdagangan etis kemungkinan besar hanya dapat mengurangi ketimpangan, bukan menghapusnya sepenuhnya.
Daftar Pustaka
Beacom, E. (2024). Tony’s Chocolonely: Sustainable, Ethical Business and Supply Chain. Sage Publications.
International Cocoa Organization. (2025). ICCO annual report 2024/2025. Diakses dari icco.org
International Labour Organization, & UNICEF. (2025). Child labour: Global estimates 2024, trends and the road forward. Geneva, Switzerland: ILO & UNICEF.
Romano, S., Demaria, F., & Carbone, A. (2026). A systematic review of the impacts of voluntary sustainability standards on the cocoa global value chain. Discover Sustainability, 7(323). https://doi.org/10.1007/s43621-026-02623-0
Ruiter, V. (2025). Scaling for systemic change: A case study of how Tony’s Chocolonely leverages practices, resources, and strategies in its sustainable sourcing initiative (Master’s thesis, Radboud University).
The Grocer. (2022). Tony’s Chocolonely slashes chocolate bar prices in bid to broaden appeal. Diakses dari The Grocer article.
Tony’s Chocolonely. (2025). Annual FAIR report 2024/25. Diakses dari https://tonyschocolonely.com/
Tony’s Chocolonely. (2025). Tony’s Chocolonely Official Website. https://tonyschocolonely.com/
Tony’s Chocolonely. (2025). Tony’s Open Chain. Diakses dari https://tonyschocolonely.com/





