Daily Nusantara, Surabaya, 5 Juni 2026 – Sejumlah mahasiswa dari Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Moderasi Beragama sebagai Pilar Keharmonisan Sosial”. Kegiatan yang berlangsung di Jl. Kedung Asem 109, Rungkut, Surabaya ini bertujuan memperkuat nilai-nilai toleransi, dialog antarumat, serta semangat hidup berdampingan dalam keberagaman.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur, dan melibatkan mahasiswa lintas program studi sebagai bagian dari implementasi Project Based Learning (PBL). Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan serangkaian agenda sosialisasi moderasi beragama dan diskusi nilai toleransi antar sesama kepada anak sekolah menengah pertama di TPQ Darussalam.
Hal ini terlihat dari hasil perbandingan pre-test dan post-test yang diberikan kepada peserta sebelum dan sesudah kegiatan berlangsung.
“Kami ingin siswa memahami bahwa moderasi beragama itu bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi bagaimana bersikap adil, seimbang, dan tetap menghormati perbedaan melalui sikap toleransi,” ujar Almash.
Kegiatan yang ditujukan kepada siswa tingkat SMP diawali dengan pengisian pre-test untuk mengukur pemahaman awal siswa SMP di TPQ Darussalam mengenai konsep toleransi beragama. Dari hasil pre-test, sebagian besar siswa telah memiliki gambaran umum tentang toleransi, seperti saling menghargai dan menghormati perbedaan. Namun, pemahaman tersebut masih tergolong sederhana dan belum mendalam. Beberapa siswa bahkan masih menunjukkan keraguan dalam menyikapi situasi nyata, seperti menghadiri perayaan agama lain atau merespons perbedaan keyakinan di lingkungan sekitar.
Selama penyampaian materi, mahasiswa juga menjelaskan perbedaan antara sikap ekstrem, moderat, dan liberal dalam beragama. Sikap ekstrem dijelaskan sebagai kecenderungan memaksakan keyakinan dan sulit menerima perbedaan, sementara sikap liberal dipahami sebagai kebebasan tanpa batas hingga mengabaikan prinsip dasar agama. Adapun sikap moderat berada di posisi tengah, yaitu tetap berpegang pada keyakinan masing-masing, namun tetap menghargai dan menghormati perbedaan.
Menjelang akhir sesi, mahasiswa mengajukan beberapa pertanyaan langsung kepada siswa sebagai bentuk penguatan materi sebelum post-test dilakukan. Melalui sesi ini, siswa mulai menunjukkan pemahaman yang lebih baik dengan memberikan jawaban yang lebih relevan dan disertai contoh nyata.
Pada post-test, hasilnya menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan. Siswa mulai mampu menjelaskan toleransi lebih detail, seperti pentingnya menghargai perbedaan tanpa harus mencampuradukkan keyakinan. Selain itu, mereka dapat memberikan contoh nyata, seperti tidak mengganggu teman yang sedang beribadah, tidak mengejek perbedaan agama, serta tetap menjaga hubungan pertemanan secara harmonis.
Perubahan juga terlihat pada cara siswa menyikapi situasi sosial. Jika pada pre-test sebagian siswa masih ragu untuk menghadiri perayaan agama lain, pada post-test mereka menunjukkan sikap yang lebih terbuka namun tetap memiliki batasan prinsip, seperti menghormati tanpa harus ikut dalam ibadah. Hal ini mencerminkan pemahaman moderasi beragama yang lebih seimbang.
Selain itu, siswa juga mulai mampu mengidentifikasi dampak positif dari perbedaan agama dalam pertemanan, seperti memperluas wawasan, belajar saling menghargai, serta menciptakan lingkungan yang damai dan rukun. Jawaban yang diberikan pun lebih terstruktur, jelas, dan menunjukkan pemikiran kritis.
Almash menyampaikan bahwa hasil ini menjadi indikator keberhasilan program edukasi yang telah dilakukan.
“Kami melihat adanya perkembangan yang cukup signifikan dari cara siswa memahami dan merespons isu toleransi. Ini menunjukkan bahwa pendekatan edukatif yang interaktif sangat efektif,” ujarnya.
Menurut Bapak Fazlul selaku dosen pengampu mata kuliah agama Islam, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mendukung program strategis nasional dalam memperkuat moderasi beragama yang inklusif, toleran, dan cinta damai.
“Moderasi bukan berarti netral tanpa sikap, melainkan sikap adil dan proporsional dalam beragama. Pengabdian ini adalah praktik nyata dari nilai-nilai akademik yang berdampak sosial,” tegasnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat terus berlanjut dan dikembangkan di berbagai wilayah lainnya. Dengan adanya peningkatan pemahaman dari pre-test ke post-test, program pengabdian ini dinilai berhasil menanamkan nilai-nilai moderasi beragama secara efektif kepada generasi muda.
Melalui edukasi yang tepat, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep toleransi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta masyarakat yang harmonis, damai, dan saling menghargai dalam keberagaman.






