SURABAYA – Corak daun dan bunga tampak menghiasi busana yang dikenakan dosen dan mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jum’at (5/6/2026). Melalui busana ecoprint, sivitas akademika kampus tersebut mengajak masyarakat melihat kembali hubungan antara kreativitas, fesyen, dan alam.

Ecoprint merupakan teknik pewarnaan kain yang memanfaatkan pigmen alami dari daun, bunga, maupun bagian tumbuhan lainnya. Teknik ini menghasilkan motif yang unik karena setiap material alami meninggalkan jejak warna dan bentuk yang berbeda pada kain.

Di tengah berkembangnya industri fesyen yang semakin dinamis, ecoprint menawarkan pendekatan yang berbeda. Kain tidak hanya berfungsi sebagai bahan pakaian, tetapi juga menjadi media untuk mengeksplorasi kekayaan alam sekaligus proses kreatif yang lebih dekat dengan lingkungan.

sgsgsgsgs
Dokumentasi pribadi : Mahasiswa/i School of Creative Industry Universitas Ciputra Surabaya

Dosen Program Studi Fashion Design Business Universitas Ciputra, Fabio Ricardo Toreh, S.Des., M.Des., mengatakan bahwa ecoprint memperlihatkan bagaimana alam dapat menjadi sumber inspirasi utama dalam proses desain.

“Ecoprint mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu harus diciptakan melalui proses yang rumit. Alam telah menyediakan warna, bentuk, dan tekstur yang dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai estetika dan makna,” ujarnya.

Menurut Fabio, teknik tersebut juga memperkenalkan cara pandang baru dalam melihat material tekstil. Setiap motif yang tercetak pada kain merupakan hasil interaksi langsung antara manusia dan unsur-unsur alami yang digunakan.

Sementara itu, dosen Fashion Design Christina Tanujaya, AdvDip., B.Des., MBA., menjelaskan bahwa pembelajaran desain saat ini tidak hanya berfokus pada aspek visual, tetapi juga pada pemahaman terhadap material dan proses pembuatannya.

“Mahasiswa perlu memahami asal-usul material yang mereka gunakan. Mereka tidak hanya belajar menciptakan produk yang menarik, tetapi juga memahami proses, karakter bahan, dan nilai yang terkandung di balik sebuah karya,” katanya.

Bagi mahasiswa, pengalaman mempelajari ecoprint memberikan perspektif baru tentang potensi yang dimiliki lingkungan sekitar. Jovita Vimala Hermawan mengaku teknik tersebut membuatnya lebih menghargai hal-hal sederhana yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

“Daun yang biasanya kita anggap biasa ternyata bisa menghasilkan motif yang indah dan memiliki karakter yang kuat. Pengalaman ini membuat saya melihat desain dari sudut pandang yang berbeda,” ungkapnya.

Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjadi momentum bagi sivitas akademika Universitas Ciputra untuk menunjukkan bahwa kreativitas dapat tumbuh dari kedekatan dengan alam. Melalui karya-karya ecoprint, mereka tidak hanya menampilkan keunikan tekstil berbahan alami, tetapi juga mengingatkan bahwa inspirasi terbesar sering kali berasal dari lingkungan yang ada di sekitar manusia.