Oleh: Cindy Adhitya Ananda Karunia – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Sepekan terakhir, linimasa media sosial dipenuhi satu topik: Timnas Indonesia. Bukan karena prestasi, melainkan karena kekalahan. Pada 3 Agustus 2026, skuad Garuda kalah 0-3 dari Vietnam di Stadion Pakansari, Bogor. Empat hari kemudian, hasil imbang 1-1 melawan Singapura di Stadion Jalan Besar, Kallang, memastikan Indonesia tersingkir dari Piala AFF 2026 di posisi ketiga Grup A, kalah bersaing dari Vietnam dan Singapura yang melaju ke semifinal.
Yang menarik dari peristiwa ini bukan sekadar taktik atau statistik pertandingan, melainkan apa yang terjadi setelah peluit akhir dibunyikan: gelombang kritik, hujatan personal, hingga saling sindir antarwarganet ASEAN yang menyeret isu pemain naturalisasi. Fenomena ini menjadi contoh menarik untuk melihat bagaimana konsep Emotional Intelligence (kecerdasan emosional) tidak hanya berlaku pada pemain saat bertanding, tetapi juga pada penonton dan pengguna media sosial dalam merespons sebuah kekalahan.
Ketika Kekecewaan Berubah Menjadi Kekerasan Verbal
Akun Instagram resmi Timnas Indonesia dan PSSI tercatat tidak mengunggah hasil akhir laga secara terbuka di halaman utama, dan justru menyelipkannya lewat story yang cepat hilang. Langkah ini memicu reaksi keras dari publik, yang mempertanyakan mengapa hasil buruk terkesan sengaja disembunyikan.
Di sisi lain, bek Timnas, Justin Hubner, membalas provokasi pemain Vietnam lewat unggahan pribadi yang menyinggung sejarah pertemuan kedua negara di kualifikasi Piala Dunia—respons yang memperlihatkan betapa mudahnya emosi terpancing ketika tekanan sedang tinggi.
Daniel Goleman, dalam bukunya Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ (1995), menjelaskan pentingnya self-regulation atau pengaturan diri sebagai salah satu pilar kecerdasan emosional. Pengaturan diri berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk tidak langsung bereaksi ketika emosi sedang tinggi, tetapi memberi waktu untuk berpikir sebelum merespons.
Dalam kasus tersingkirnya Timnas dari Piala AFF 2026, kemampuan ini menjadi penting, terutama bagi warganet dan suporter yang memberikan respons di media sosial. Hujatan personal kepada pemain dan pelatih serta saling sindir antarsuporter menunjukkan bahwa kekecewaan dapat dengan mudah berubah menjadi respons emosional ketika tidak disertai pengendalian diri. Menurut saya, seseorang tetap boleh kecewa dan mengkritik, tetapi perlu mempertimbangkan dampak dari apa yang disampaikan sebelum menuliskannya di ruang publik.
Sementara itu, dari sisi institusi, persoalannya lebih berkaitan dengan bagaimana organisasi menghadapi tekanan publik dan menyampaikan informasi ketika mengalami kegagalan. Dalam situasi seperti ini, komunikasi krisis dan transparansi menjadi penting untuk menjaga kepercayaan publik. Cara PSSI dan tim terkait merespons kekalahan dapat menjadi contoh bagaimana sebuah organisasi perlu tetap terbuka dan bertanggung jawab ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan.
Kritik yang Membangun vs Kritik yang Merusak
Kekecewaan terhadap hasil pertandingan adalah hal yang wajar. Persoalannya bukan pada boleh-tidaknya kecewa, melainkan pada cara kekecewaan itu disampaikan. Bek senior Jordi Amat, misalnya, secara terbuka mengakui bahwa pertahanan tim terlalu terbuka dan transisi bertahan berjalan lambat—bentuk evaluasi jujur yang jauh lebih berguna dibanding hujatan tanpa dasar yang beredar di media sosial.
Kritik yang masih membahas permainan, strategi, atau keputusan teknis di lapangan tetap bisa menjadi bahan evaluasi yang sehat. Namun, ketika kritik bergeser menjadi serangan personal terhadap martabat pemain sebagai manusia, di titik itulah batas kewajaran sudah dilewati.
Bagi saya, menghargai martabat manusia tetap harus menjadi batas dalam menyampaikan kritik, bahkan ketika kita sedang kecewa terhadap hasil yang tidak sesuai harapan. Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya suporter di Indonesia masih perlu banyak belajar membedakan antara kritik berbasis data dan sekadar pelampiasan emosi yang mencari kambing hitam.
Relevansi bagi Dunia Manajemen dan Kepemimpinan
Peristiwa ini juga relevan dibaca dari sudut pandang manajemen dan kepemimpinan organisasi. Cara sebuah institusi menghadapi kegagalan dan tekanan publik dapat menjadi cerminan kematangan manajemen krisisnya. Ketua Umum PSSI Erick Thohir tetap menyatakan dukungannya kepada pelatih John Herdman setelah kekalahan telak dari Vietnam. Menurut saya, sikap ini dapat dibaca sebagai upaya menjaga stabilitas psikologis tim di tengah tekanan publik yang besar. Hal ini dapat dikaitkan dengan komponen kecerdasan emosional lain menurut Goleman, yaitu motivasi dan keterampilan sosial, yang membantu pemimpin mempertahankan semangat tim sekaligus membangun hubungan yang baik ketika menghadapi tekanan.
Di sisi lain, keputusan admin media sosial resmi yang tidak mengunggah hasil buruk secara terbuka justru berpotensi menjadi blunder komunikasi krisis. Dalam praktik manajemen, transparansi saat menghadapi kegagalan justru menjadi salah satu fondasi membangun kepercayaan publik dalam jangka panjang. Masyarakat mungkin tetap kecewa, tetapi setidaknya mereka mendapat informasi secara langsung, tanpa merasa ada yang ditutup-tutupi. Prinsip ini tidak hanya berlaku untuk federasi olahraga, tetapi juga relevan bagi perusahaan maupun institusi pelayanan publik mana pun.
Penutup: Kedewasaan Emosional sebagai Ukuran Peradaban Digital
Tersingkirnya Timnas Indonesia dari Piala AFF 2026 pada akhirnya bukan hanya soal skor akhir 0-3 melawan Vietnam atau hasil imbang 1-1 melawan Singapura. Peristiwa ini juga menjadi cermin bagaimana kekalahan direspons di ruang digital. Kekalahan adalah bagian yang wajar dari kompetisi, tetapi cara meresponsnya itulah yang sesungguhnya mencerminkan kedewasaan—baik sebagai individu, suporter, maupun institusi yang mengelola ekspektasi publik.
Dari kejadian ini saya melihat bahwa kecerdasan emosional bukan hanya teori psikologi yang dipelajari di kelas. Kemampuan untuk mengendalikan emosi juga dibutuhkan ketika seseorang atau sebuah organisasi sedang menghadapi tekanan. Menurut saya, tekanan tidak seharusnya membuat kita kehilangan rasa hormat terhadap orang lain. Ada baiknya, sebelum mengetik komentar pedas berikutnya, berhenti sejenak dan bertanya: kritik ini untuk membangun, atau sekadar melampiaskan kekecewaan?
Sumber Referensi:
1. Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York: Bantam Books.
2. ANTARA News. (2026). Jadwal Lengkap Piala AFF 2026: Timnas Indonesia segrup dengan Vietnam. https://www.antaranews.com/berita/5657483/jadwal-lengkap-piala-aff-2026-timnas-indonesia-segrup-dengan-vietnam
3. IDN Times. (2026, 4 Agustus). Kenapa Timnas Indonesia Dibantai Vietnam di Piala AFF 2026. https://www.idntimes.com/sport/soccer/kenapa-timnas-indonesia-dibantai-vietnam-di-piala-aff-2026-00-nwm7r-h54whf
4. Media Indonesia. (2026, 5 Agustus). Justin Hubner Sindir Vietnam Usai Timnas Indonesia Kalah di Piala AFF 2026. https://mediaindonesia.com/sepak-bola/918210/justin-hubner-sindir-vietnam-usai-timnas-indonesia-kalah-di-piala-aff-2026
5. ANTARA News. (2026). PSSI prihatin kritik negatif terhadap Justin Hubner dan keluarganya. https://jogja.antaranews.com/berita/847340/pssi-prihatin-kritik-negatif-terhadap-justin-hubner-dan-keluarganya
6. Bola.com. (2026, 4 Agustus). Erick Thohir Setelah Timnas Indonesia Dihajar Vietnam di Piala AFF 2026: Mereka Juara Berkali-kali, Saya Percaya John Herdman. https://www.bola.com/indonesia/read/8261540/erick-thohir-setelah-timnas-indonesia-dihajar-vietnam-di-piala-aff-2026-mereka-juara-berkali-kali-saya-percaya-john-herdman
7. ANTARA News. (2026). PSSI percaya Garuda bisa bangkit usai dikalahkan Vietnam. https://kalsel.antaranews.com/berita/528968/pssi-percaya-garuda-bisa-bangkit-usai-dikalahkan-vietnam
8. ANTARA News. (2026). Marc Klok tegaskan timnas akan belajar dari kegagalan pada Piala AFF. https://babel.antaranews.com/berita/576264/marc-klok-tegaskan-timnas-akan-belajar-dari-kegagalan-pada-piala-aff






