Oleh: Naila Mulyana Putri

Mahasiswi Administrasi Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Diponegoro

Daily Nusantara, Opini – Beberapa minggu terakhir, teman-teman saya di kampus tumbang satu per satu. Ada yang demam, ada yang pusing dan lemas sepulang kuliah, ada yang izin berhari-hari. Saya bukan tenaga medis dan tidak bisa memastikan penyebab tunggalnya, tetapi cerita mereka mirip: siang terlalu terik, badan cepat lelah, air minum cepat habis. Tanaman pun ikut menyerah. Di jogging track baru Universitas Diponegoro dan beberapa sudut Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, daun-daun layu dan tanahnya mengeras. Awalnya saya mengira ini hanya perasaan. Ternyata data berkata sama.

Angka yang membenarkan

Pada 25 September 2026, Stasiun Meteorologi Ahmad Yani mencatat suhu maksimum 37,1 derajat Celsius, tertinggi di Indonesia pada periode pemantauan BMKG 25-26 September. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah di Semarang mencatat 36,9 derajat dan Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Emas 36,3 derajat, sehingga tiga stasiun di Semarang masuk sepuluh besar nasional. Beberapa hari sebelumnya, dua stasiun di Semarang juga mencatat 36,5 dan 36,6 derajat. Untuk Tembalang, BMKG menampilkan kondisi 34 derajat dengan kelembapan 41 persen pada siang 12 September, sementara prakiraannya menunjukkan kelembapan bisa turun hingga sekitar 32 persen. Udara yang panas dan kering inilah yang kami hirup setiap hari.

Bukan sekadar musim

Menurut BMKG Jawa Tengah, El Nino kini sangat kuat dengan indeks 2,63 dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Hasilnya terlihat pada hari tanpa hujan: sebagian besar wilayah Jawa Tengah berada pada kriteria kekeringan menengah (11-20 hari) hingga ekstrem (lebih dari 60 hari). Peringatan dini BMKG untuk dasarian I Oktober menempatkan Kota Semarang pada status Waspada, Kabupaten Semarang dan Salatiga pada Siaga, dan 23 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, termasuk Demak, Grobogan, dan Pati, pada status Awas. Kota kita memang belum di level tertinggi, tetapi daerah penyangga air dan pangannya sudah.

Dari daun layu sampai api

Kering berarti rawan api, dan di sekitar kampus kami buktinya berulang. Padang ilalang Bukit Teletubbies di Tandang, Tembalang, terbakar hebat pada 22 Juli dan apinya nyaris merambat ke permukiman. Lalu 600 meter persegi ilalang di Jangli terbakar pada 8 Agustus, dan sekitar 7.000 meter persegi lahan kosong di Sigar Bencah terbakar pada 20 September, yang baru padam setelah 70 menit. Damkar mencatat 52 kasus kebakaran lahan dan ilalang di Kota Semarang sepanjang Januari-Juli 2026, dan BPBD Kota Semarang mengingatkan bahwa lahan kosong bersemak dan vegetasi kering adalah titik rawan. Tanaman yang layu di kampus hanyalah versi kecil dari lanskap yang sama: kering, rapuh, dan mudah tersulut.

Tubuh yang ikut kepanasan

Soal teman-teman saya yang sakit, saya berhati-hati. Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyebut kemarau panjang ini meningkatkan risiko ISPA dan diare, dan Kepala Dinkes Jawa Tengah menyebut pingsan akibat kepanasan serta dehidrasi sebagai gangguan yang paling perlu diwaspadai. Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa ISPA tidak semata karena suhu, melainkan juga karena udara kering, debu, dan kualitas udara. Pemerintah Kota Semarang pun telah meminta puskesmas siaga penuh. Saya tidak menemukan angka kasus 2026 khusus Semarang, dan itu justru poin saya: kita butuh data kesehatan yang terbuka agar dampak panas bisa dibuktikan, bukan hanya diceritakan.

Skala yang lebih besar

BPBD Jawa Tengah menyalurkan sekitar 75,4 juta liter air bersih kepada 2,34 juta jiwa di 784 desa dan kelurahan pada 33 kabupaten/kota antara 5 Juni dan 28 September. Grobogan mencatat desa terdampak terbanyak, yakni 131 desa. Sedikitnya 71,48 hektare sawah gagal panen, dan sekitar 79,65 persen wilayah Indonesia masih berada pada kategori curah hujan rendah pada dasarian I Oktober.

Hujan yang terlambat

Kabar paling menentukan datang pada 30 September. BMKG memprediksi awal musim hujan Jawa Tengah mundur lebih dari satu bulan dari normal: sekitar 58 persen wilayah masuk musim hujan pada November dan 42 persen pada Desember, dengan puncak pada Januari-Februari 2027. Penyebabnya adalah El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole positif. BMKG juga mengingatkan bahaya banjir bandang, longsor, dan puting beliung pada masa pancaroba. Artinya, kita menghadapi dua risiko berurutan: kering yang memanjang, lalu hujan yang bisa datang mendadak.

Ujian tata kelola

Di sinilah, sebagai mahasiswi Administrasi Publik, saya melihat persoalan ini sebagai ujian tata kelola. Cuaca tak bisa diatur, tetapi kesiapan bisa. Pemerintah sudah bergerak, mulai dari distribusi air, asuransi gagal panen bagi petani, hingga rencana meminta modifikasi cuaca jika kondisi memburuk. Namun langkah-langkah itu cenderung reaktif. Saya mengusulkan empat hal.

Pertama, peta lahan rawan terbakar yang terbuka, lengkap dengan pemilik dan penanggung jawab pembersihannya. Sebagian lahan yang terbakar di Tembalang berstatus milik institusi atau perusahaan, dan lahan tanpa pengelola aktif adalah masalah kebijakan, bukan nasib. Kedua, peringatan dini BMKG harus diterjemahkan menjadi imbauan yang sampai ke RT/RW dan sivitas kampus, bukan berhenti di situs web. Ketiga, ruang hijau, termasuk di kampus, perlu direncanakan bersama perawatannya, dari cadangan air hingga pemilihan tanaman tahan kering. Keempat, kampus perlu beradaptasi dengan titik air minum gratis, area teduh, fleksibilitas kegiatan luar ruang pada jam terik, dan layanan kesehatan yang mudah dijangkau mahasiswa.

Usulan-usulan itu sederhana, tetapi menuntut koordinasi lintas lembaga, dan di situlah administrasi publik diuji.

Terik ini akan reda ketika hujan tiba, tetapi pelajarannya jangan ikut menguap. Kita tidak bisa memanggil hujan. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan tidak ada warga, mahasiswa, atau tanaman yang dibiarkan menghadapi panas sendirian.

Daftar Referensi

Sumber resmi BMKG

  1. BMKG, Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian I Oktober 2026: https://www.bmkg.go.id/iklim/peringatan-dini-kekeringan-meteorologis
  2. BMKG, Prakiraan Cuaca Tembalang: https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/33.74.10.1006 ; https://www.bmkg.go.id/cuaca/prakiraan-cuaca/33.74.10
  3. Stasiun Klimatologi Jawa Tengah BMKG, Prediksi Musim Hujan 2026/2027: https://staklim-jateng.bmkg.go.id/prediksi_musim_hujan.php

Suhu Semarang (rilis BMKG yang dikutip media)

  1. tv, “Kota Semarang Nomor 1 Wilayah Terpanas di Indonesia, Suhu Tembus 37,1 Derajat Celsius” (28 Sep 2026): https://beritajateng.tv/kota-semarang-nomor-1-wilayah-terpanas-di-indonesia-suhu-tembus-371-derajat-celsius/
  2. com, “Suhu Semarang Tembus 37,1 Derajat Celsius…” (28 Sep 2026): https://regional.kompas.com/read/2026/09/28/152103378/suhu-semarang-tembus-371-derajat-celsius-warga-rasa-punya-water-heater
  3. Serambinews, daftar 10 wilayah terpanas BMKG (21 Sep 2026): https://aceh.tribunnews.com/news/1044812/kalsel-jadi-daerah-terpanas-di-indonesia-bmkg-catat-10-wilayah-bersuhu-tinggi-dalam-24-jam-terakhir

El Nino, kekeringan, musim hujan

  1. id, “BMKG Prediksi Musim Hujan Jateng Mundur hingga November, El Nino Kuat Jadi Penyebab”: https://mettanews.id/bmkg-prediksi-musim-hujan-jateng-mundur-hingga-november-el-nino-kuat-jadi-penyebab/
  2. com, “BMKG: Puncak Musim Kemarau Jawa Tengah Berlangsung hingga Oktober 2026” (22 Sep 2026): https://regional.kompas.com/read/2026/09/22/111905578/bmkg-puncak-musim-kemarau-jawa-tengah-berlangsung-hingga-oktober-2026
  3. Kompas TV, “Musim Hujan 2026/2027 di Jawa Tengah Mundur Lebih dari 1 Bulan”: https://www.kompas.tv/amp/regional/693584/musim-hujan-2026-2027-di-jawa-tengah-mundur-lebih-dari-1-bulan-bmkg-ungkap-penyebabnya
  4. PPID Jateng, “BMKG Prediksi Jateng Masuki Musim Hujan pada November, Mundur Akibat El Nino”: https://ppid.jatengprov.go.id/bmkg-prediksi-jateng-masuki-musim-hujan-pada-november-mundur-akibat-el-nino/
  5. com, “Daftar Lengkap Wilayah Indonesia yang Kena Status Awas Kekeringan BMKG” (5 Okt 2026): https://kabar24.bisnis.com/read/20261005/15/2009620/daftar-lengkap-wilayah-indonesia-yang-kena-status-awas-kekeringan-bmkg

Kebakaran lahan di Tembalang dan Semarang

  1. Media Indonesia, “Musim Kemarau Panjang, Pramono Minta Warga Waspadai Ancaman Kebakaran” (memuat kebakaran Bukit Teletubbies, Tandang, 22 Jul 2026): https://mediaindonesia.com/megapolitan/913012/musim-kemarau-panjang-pramono-minta-warga-waspadai-ancaman-kebakaran
  2. Mata Semarang, “Lahan Ilalang 600 Meter Persegi di Jangli Terbakar” (9 Agu 2026): https://matasemarang.com/lahan-ilalang-600-meter-persegi-di-jangli-terbakar/
  3. Mata Semarang, “Lahan 7.000 Meter Persegi di Sigar Bencah Terbakar” (20 Sep 2026): https://matasemarang.com/lahan-7-000-meter-persegi-di-sigar-bencah-terbakar/
  4. IDN Times Jateng, “Lahan Kosong Bisa Picu Kebakaran di Semarang, Ini Penjelasan BPBD” (25 Agu 2026): https://jateng.idntimes.com/news/jawa-tengah/lahan-kosong-bisa-picu-kebakaran-di-semarang-ini-penjelasan-bpbd-00-1kqqx-fbbxw8
  5. Portal Lensa, “Kebakaran Lahan di Jabungan…” (16 Agu 2026, memuat data Damkar 52 kasus): https://www.portallensa.com/kebakaran-lahan-di-jabungan-api-menjalar-kesadaran-warga-jangan-terbakar/

Kesehatan

  1. tv, “El Nino Picu Kemarau Lebih Panjang, Dinkes Jateng Ingatkan Ancaman ISPA hingga Heat Stroke” (29 Agu 2026): https://beritajateng.tv/el-nino-picu-kemarau-lebih-panjang-dinkes-jateng-ingatkan-ancaman-ispa-hingga-heat-stroke/
  2. IDN Times Jateng, “Dinkes Jateng: Penderita ISPA dan Diare Meningkat saat Kemarau Panjang” (26 Agu 2026): https://jateng.idntimes.com/news/jawa-tengah/dinkes-jateng-penderita-ispa-dan-diare-meningkat-saat-kemarau-panjang-00-l4nr2-z6rwv3
  3. IDN Times Jateng, “Kemarau Ekstrem Ancam Semarang, Damkar hingga Puskesmas Siaga Penuh”: https://jateng.idntimes.com/news/jawa-tengah/kemarau-ekstrem-ancam-semarang-damkar-hingga-puskesmas-siaga-penuh-00-1kqqx-ml4f8s
  4. JatimTimes, “ISPA di Jatim Melonjak…” (29 Sep 2026, memuat penjelasan Kemenkes): https://jatimtimes.com/baca/3331351110/20260929/071200/ispa-di-jatim-melonjak-hingga-211-ribu-kasus-gegara-cuaca-panas-ekstrem

Dampak provinsi

  1. id, “2,34 Juta Warga Terdampak Kekeringan Jateng, 75,4 Juta Liter Air Bersih Disalurkan” (30 Sep 2026): https://www.jatengnews.id/2026/09/30/234-juta-warga-terdampak-kekeringan-jateng-754-juta-liter-air-bersih-disalurkan/
  2. id, “Kemarau Berkepanjangan, 71,48 Hektar Lahan Padi di Jateng Gagal Panen” (30 Sep 2026): https://www.kompas.id/artikel/kemarau-bekepanjangan-picu-kekeringan-puluhan-hektar-lahan-padi-di-jateng-gagal-panen
  3. id, “75,4 Juta Liter Air Bersih Sudah Disalurkan ke Wilayah Kekeringan Jateng” (pernyataan Gubernur soal asuransi gagal panen dan modifikasi cuaca): https://www.ngopibareng.id/read/75-4-juta-liter-air-bersih-sudah-disalurkan-ke-wilayah-kekeringan-jateng