Daily Nusantara, Jakarta – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya merkuri dalam produk kecantikan dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui pendekatan kreatif yang dilakukan oleh konten kreator Ashceline yang dikenal aktif membahas krim merkuri dan produk skincare ilegal di media sosial.
Ashceline menarik perhatian publik karena pendekatan unik yang digunakannya dalam membuat konten edukasi. Ia tidak hanya memberikan ulasan berdasarkan teori atau informasi umum, tetapi juga membeli langsung berbagai produk yang diduga mengandung merkuri untuk dianalisis dan dijadikan bahan edukasi.
Langkah tersebut membuat Ashceline harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ia mengaku telah menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli dan mengumpulkan berbagai produk krim yang beredar di pasaran.
Produk-produk tersebut kemudian dikumpulkan menjadi satu sebagai bentuk visualisasi nyata mengenai banyaknya produk berisiko yang masih beredar. Pendekatan visual ini dinilai efektif dalam menarik perhatian masyarakat terhadap isu keamanan skincare.
Di balik konsistensinya membuat konten edukatif, terdapat pengalaman pribadi yang menjadi alasan utama. Ashceline merupakan penyintas penggunaan krim merkuri yang pernah dialaminya sejak masih duduk di bangku SMP.
Pengalaman tersebut meninggalkan dampak kesehatan yang masih dirasakannya hingga sekarang. Karena itu, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan masyarakat agar tidak mengalami hal serupa.
Dalam setiap kontennya, Ashceline berusaha menjelaskan berbagai risiko penggunaan produk yang mengandung merkuri. Ia juga memberikan informasi mengenai cara mengenali produk yang patut dicurigai.
Salah satu pesan yang paling sering disampaikannya adalah pentingnya memeriksa legalitas produk melalui BPOM sebelum melakukan pembelian. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat membantu masyarakat menghindari produk yang berpotensi membahayakan kesehatan.
Selain memeriksa legalitas, Ashceline juga mengedukasi masyarakat mengenai tekstur dan karakteristik fisik krim yang perlu diwaspadai. Informasi ini diberikan sebagai bekal tambahan bagi konsumen dalam memilih produk yang aman.
Konten-konten yang dibuatnya mendapat respons positif karena dianggap memberikan informasi yang relevan dan mudah dipahami. Banyak pengguna media sosial yang mengaku menjadi lebih berhati-hati dalam membeli produk skincare setelah mengikuti edukasi tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya dapat digunakan untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi kesehatan masyarakat yang efektif. Melalui platform digital, informasi dapat menjangkau audiens yang lebih luas dalam waktu singkat.
Bagi Ashceline, tujuan utama dari seluruh kontennya bukanlah sekadar menciptakan viralitas. Ia ingin membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya keamanan produk perawatan kulit.
Melalui edukasi yang konsisten, Ashceline berharap semakin banyak masyarakat yang memahami risiko merkuri dan lebih cermat dalam memilih produk kecantikan, sehingga kesehatan kulit dapat terjaga dengan baik.






