PIDIE JAYA, ACEH — Puluhan mahasiswa dari STMIK Indonesia Banda Aceh turun langsung ke Gampong Lhok Sandeng, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, untuk membantu pemulihan warga pascabanjir bandang yang menerjang wilayah tersebut pada November dan Desember 2025. Salah satu yang menjadi prioritas adalah menghadirkan penerangan jalan di desa yang selama lebih dari sepuluh tahun tidak pernah memiliki lampu jalan sama sekali.

Kegiatan berlangsung sejak akhir Januari hingga awal April 2026. Mahasiswa hadir secara bertahap — diawali dengan kunjungan awal untuk berkoordinasi dengan perangkat desa dan mengenal kondisi warga, dilanjutkan dengan kegiatan pemasangan, sosialisasi, pelatihan, hingga gotong royong bersama masyarakat.

Banjir bandang yang terjadi dua kali dalam rentang satu bulan itu memaksa 153 jiwa mengungsi, melumpuhkan lahan pertanian, dan memutus akses listrik warga selama puluhan hari. Di tengah kondisi itu, ketiadaan penerangan jalan menjadi salah satu persoalan yang paling dirasakan warga, terutama saat harus bergerak pada malam hari.

“Selama sepuluh tahun kami sudah ajukan permohonan penerangan ke pemerintah daerah. Tidak pernah ada yang ditanggapi. Jadi ketika lampu ini akhirnya menyala, rasanya luar biasa,” ujar Rasyidin, Sekretaris Desa Lhok Sandeng.

Pemasangan lampu jalan dilakukan secara gotong royong antara mahasiswa dan warga. Warga tidak hanya menjadi penonton — mereka terlibat langsung dalam setiap tahapan pekerjaan di lapangan. Setelah pemasangan selesai, sosialisasi dan pelatihan perawatan digelar secara bertahap agar warga mampu menjaga dan memelihara lampu-lampu tersebut secara mandiri tanpa bergantung pada pihak luar. Dampaknya langsung dirasakan. Pedagang kecil di sepanjang jalan desa kini bisa membuka usaha lebih lama. Ibu-ibu dapat menghadiri kegiatan malam hari tanpa rasa khawatir. Anak-anak memiliki penerangan yang layak untuk belajar di rumah.

“Dulu setelah maghrib sudah sepi. Sekarang masih ada orang lalu-lalang, warung masih buka,” kata Hamdani, Ketua Kelompok Tani Lhok Sandeng Jaya.

Seluruh lampu jalan yang terpasang kini diserahkan kepada pemerintah desa sebagai aset yang dikelola bersama warga. Tim pemeliharaan desa telah dibentuk dan dibekali panduan perawatan agar keberlanjutan penerangan dapat terjaga dalam jangka panjang. Sebanyak 57 mahasiswa dari tiga program studi terlibat dalam kegiatan ini. Dosen pendamping Muhammad Wali menyebut keterlibatan warga sebagai kunci keberhasilan program.

“Kami tidak datang untuk mengerjakan semuanya sendiri. Warga yang paling tahu kebutuhan mereka, dan kami hadir untuk bekerja bersama mereka,” ujarnya.