SURABAYA – Prestasi gemilang yang diraih Jeremie The, siswa kelas 1 SD asal Surabaya, pada ajang World Mathematics Invitational (WMI) Final Round 2026 di Tokyo–Chiba, Jepang, tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Indonesia. Lebih dari itu, keberhasilan meraih medali perak di tengah persaingan sekitar 3.000 peserta dari 28 negara menghadirkan pertanyaan yang lebih besar: apa pelajaran yang dapat dipetik oleh dunia pendidikan Indonesia dari prestasi tersebut?

Jeremie berhasil mencapai putaran final setelah lolos dari seleksi nasional yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia. Pada kompetisi internasional itu, peserta dihadapkan pada soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir logis, analitis, dan pemecahan masalah. Di usia yang masih sangat muda, Jeremie mampu menunjukkan kapasitas akademik yang mampu bersaing dengan peserta dari berbagai belahan dunia.

Country Coordinator WMI Indonesia, Roy Lo, menjelaskan bahwa World Mathematics Invitational merupakan kompetisi matematika internasional yang berasal dari Taiwan dan diawali melalui seleksi nasional di masing-masing negara.

“WMI diawali dengan babak penyisihan nasional yang diselenggarakan di berbagai kota di Indonesia sebelum para pemenang melaju ke final internasional. Kompetisi ini terbuka bagi siswa mulai jenjang TK hingga SMA. Tahun ini sekitar 3.000 peserta dari 28 negara mengikuti WMI Final di Tokyo–Chiba, Jepang,” ujar Roy.

Prestasi Jeremie menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia tidak kalah dibandingkan dengan pelajar dari negara lain. Namun, keberhasilan tersebut juga menjadi pengingat bahwa talenta luar biasa tidak cukup hanya ditemukan, melainkan harus dibina secara berkelanjutan melalui sistem pendidikan yang mampu mengenali potensi setiap anak sejak usia dini.

Selama ini, pendidikan sering kali masih berfokus pada capaian akademik yang bersifat umum. Padahal, kompetisi internasional seperti WMI memperlihatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis, penalaran logis, kreativitas dalam menyelesaikan persoalan, serta ketekunan dalam berlatih. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan global.

Keberhasilan Jeremie juga memperlihatkan bahwa pembinaan talenta tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Dukungan keluarga, guru, komunitas pendidikan, hingga penyelenggara kompetisi memiliki peran yang saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem yang mendorong anak-anak berprestasi berkembang secara optimal.

Di tengah persaingan global yang semakin kompetitif, prestasi seorang siswa kelas 1 SD di panggung dunia seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan peserta didik berbakat di Indonesia. Bukan semata mengejar medali, tetapi membangun sistem pendidikan yang mampu mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengawal potensi anak-anak Indonesia agar tumbuh menjadi sumber daya manusia unggul.

Keberhasilan Jeremie menjadi bukti bahwa Indonesia tidak kekurangan talenta. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan semakin banyak anak dengan potensi serupa memperoleh kesempatan, pembinaan, dan dukungan yang memadai sehingga prestasi di tingkat internasional tidak lagi menjadi pengecualian, melainkan menjadi bagian dari budaya pendidikan Indonesia.