Daily Nusantara, Opini – Manajemen keuangan di Indonesia saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari efisiensi anggaran, transparansi pengelolaan dana, hingga kemampuan adaptasi terhadap sistem keuangan digital. Kondisi ini terjadi di berbagai sektor, baik pemerintahan, dunia usaha, UMKM, maupun lembaga pendidikan.

Di sektor pemerintahan, pengelolaan anggaran terus diarahkan agar lebih akuntabel dan tepat sasaran. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan kendala seperti keterlambatan realisasi anggaran, pemborosan belanja operasional, serta lemahnya pengawasan internal. Hal tersebut berdampak pada kurang optimalnya pemanfaatan dana publik untuk kepentingan masyarakat.

Sementara itu, di sektor swasta dan UMKM, masalah utama manajemen keuangan terletak pada pengelolaan arus kas dan pencatatan keuangan. Banyak pelaku usaha masih mencampur keuangan pribadi dengan keuangan usaha, sehingga menyulitkan proses evaluasi keuangan dan pengambilan keputusan bisnis. Kondisi ini membuat usaha rentan mengalami kesulitan likuiditas meskipun memiliki omzet yang cukup besar.

Digitalisasi keuangan yang terus berkembang juga menjadi tantangan tersendiri. Meskipun penggunaan sistem pembayaran digital dan aplikasi akuntansi semakin luas, belum semua pelaku usaha dan lembaga mampu beradaptasi secara optimal. Keterbatasan literasi keuangan dan teknologi menyebabkan sebagian organisasi masih menggunakan sistem manual yang rawan kesalahan dan kurang efisien.

Tekanan ekonomi global dan fluktuasi harga juga memengaruhi manajemen keuangan di Indonesia. Kenaikan biaya operasional dan penurunan daya beli masyarakat mendorong banyak organisasi untuk melakukan efisiensi anggaran. Namun, kebijakan penghematan ini perlu dikelola dengan hati-hati agar tidak menurunkan kualitas layanan dan produktivitas.

Pengamat ekonomi menilai bahwa perbaikan manajemen keuangan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari. Selain itu, peningkatan literasi keuangan dan pemanfaatan teknologi keuangan dinilai penting untuk menciptakan pengelolaan keuangan yang sehat dan berkelanjutan.

Dengan manajemen keuangan yang lebih tertata dan profesional, diharapkan organisasi di Indonesia mampu bertahan menghadapi tantangan ekonomi sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat dan investor.

Di tahun 2026 ini manajemen keuangan di Indonesia di hadapkan pada tantangan besar dalam mewujudkan transparansi dan efisiensi baik dari sektor public maupun swasta. Dengan ini di tengah tuntunan global terhadap tata Kelola yang akuntabel dan pengelolaan keuangan yang belum sepenuhnya transparan berpotensi menurunkan kepercayaan dan investor.

Di sektor public ,Upaya pemerintah dalam menerapkan di gitalisasi keuangan dan system pelaporan berbasis teknologi telah mewujudkan kemajuan. Namun ,praktik birokrasi  yang kompleksi ,keterbatasan pengawasan serta minimnya literasi keuangan di beberapa daerah menjadi penghambat pada pemborosan anggaran dan kurang optimalnya realisasi progam Pembangunan.

Sementara itu, di  sektor swasra ini transparansi sering muncul dalam bentuk keuangan yang akurat atau tidak disampaikan secara tepat waktu. Hal ini tidak hanya berisiko terhadap kepatuhan regulasi ,tetapi juga dapat menganggu pengambilan keputusan strategis perusahaan.

Efisiensi manajemen keuangan seharusnya mampu mendukung pertumbuhan bisnis melalui pengelolaan biaya yang efektif ,perencanaan keuangan yang matang,serta pemanfaatan teknologi finansial (fintech) secara optimal.

Oleh karena itu pada tahun 2026 ini peningkatan kualitas manajemen keuangan di Indonesia memerlukan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah perlu memperkuat regulasi, pengawasa, serta mendorong, budaya keterbukaan informasi.

Di sisi lain ,pelaku usaha dan institusi keuangan di tuntut untuk meningkatkan profesionalisme, integritas, serta adaptasi terhadap inovasi digital. Dengan sinergi tersebut , tetapi juga peluang untuk memperkuat perekonomian nasional secara berkelanjutan.

Penulis : Helda Rivatul Mahmuddah Mahasiswa Magister Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

Editor/Reporter: : Favian Saputra