Daily Nusantara, Opini – Ketidakpastian ekonomi global pascapandemi belum sepenuhnya mereda. Gangguan rantai pasok, fluktuasi harga bahan baku, serta perubahan pola konsumsi masih menjadi tantangan nyata bagi dunia usaha di Indonesia. Dalam situasi seperti ini, banyak pelaku usaha terutama UMKM dan perusahaan menengah mengambil langkah cepat dengan menambah utang jangka pendek untuk menjaga kelangsungan operasional. Strategi ini kerap dipilih karena dianggap paling praktis untuk menutup kekurangan kas. Namun, di balik kemudahan tersebut, tersembunyi risiko yang dapat melemahkan daya tahan bisnis dalam jangka panjang.

Masalah utama sesungguhnya bukan terletak pada utang sebagai instrumen pembiayaan, melainkan pada cara dan tujuan penggunaannya. Utang idealnya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang mampu menghasilkan arus kas di masa depan, bukan sekadar penopang biaya operasional harian. Ketika pinjaman jangka pendek digunakan secara berulang untuk menutup pengeluaran rutin, beban bunga dan tekanan jatuh tempo perlahan menggerus stabilitas keuangan perusahaan. Dalam kondisi ini, usaha mungkin masih berjalan, tetapi fondasi keuangannya semakin rapuh.

Likuiditas menjadi faktor kunci dalam menjaga “napas” bisnis. Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek menentukan apakah operasional dapat terus berlangsung di tengah pendapatan yang fluktuatif. Rasio likuiditas seperti current ratio sering dijadikan indikator kesehatan keuangan, tetapi angka tersebut tidak selalu mencerminkan kondisi riil arus kas. Ketergantungan pada utang jangka pendek untuk menutup celah kas sejatinya hanya menunda persoalan, bukan menyelesaikannya. Ketika pendapatan tidak kunjung membaik, utang justru berubah menjadi beban yang semakin berat.

Di sisi lain, struktur permodalan yang terlalu bertumpu pada utang juga meningkatkan kerentanan perusahaan. Teori struktur modal mengajarkan adanya keseimbangan antara manfaat dan risiko penggunaan utang. Dalam kondisi normal, utang dapat memberikan keuntungan berupa efisiensi pajak dan leverage pertumbuhan. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi, risiko kebangkrutan meningkat, sehingga manfaat utang menjadi semakin kecil. Dengan kata lain, tingkat utang yang dianggap wajar di masa stabil bisa menjadi terlalu berisiko di masa krisis.

Pengalaman banyak pelaku usaha menunjukkan pola yang serupa. Ketika kas menipis, perusahaan menambah pinjaman jangka pendek atau memanfaatkan fasilitas kredit bergulir. Jika kondisi bisnis belum membaik, pinjaman tersebut diperpanjang atau diganti dengan utang baru. Beban bunga menumpuk, sementara ruang gerak manajemen semakin sempit. Fokus usaha pun bergeser, dari upaya menciptakan nilai tambah menjadi sekadar bertahan dari tekanan kewajiban keuangan.

Padahal, memperbaiki likuiditas tidak selalu harus dimulai dengan menambah utang. Pengelolaan arus kas yang lebih disiplin sering kali memberikan dampak yang lebih cepat dan berkelanjutan. Percepatan penagihan piutang, pengendalian persediaan agar tidak berlebih, serta optimalisasi siklus kas dapat memperbaiki posisi likuiditas tanpa menambah beban bunga. Langkah-langkah ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam praktiknya mampu memberikan ruang bernapas yang signifikan bagi perusahaan.

Selain itu, peninjauan ulang hubungan dengan pemasok juga menjadi bagian penting dari strategi likuiditas. Negosiasi ulang syarat pembayaran atau penyesuaian volume pembelian dapat membantu menyeimbangkan arus kas. Di sisi pembiayaan, penggunaan utang jangka panjang untuk investasi produktif relatif lebih aman dibandingkan ketergantungan pada pinjaman jangka pendek yang berulang. Utang jangka panjang memberikan waktu yang lebih longgar bagi perusahaan untuk menghasilkan arus kas sebelum kewajiban jatuh tempo.

Diversifikasi sumber pendanaan juga patut dipertimbangkan. Selain kredit perbankan, perusahaan dapat memanfaatkan pembiayaan berbasis ekuitas atau skema alternatif seperti pembiayaan berbasis piutang. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada utang jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur permodalan secara keseluruhan. Bagi UMKM, akses terhadap sumber pendanaan yang lebih beragam dapat menjadi penopang penting dalam menghadapi volatilitas pasar.

Pada akhirnya, ketahanan bisnis di era ketidakpastian sangat ditentukan oleh kualitas pengelolaan likuiditas dan kebijakan permodalan. Menambah utang bukanlah kesalahan, selama dilakukan dengan perhitungan matang dan diarahkan pada aktivitas yang produktif. Namun, menggantungkan kelangsungan usaha pada utang jangka pendek untuk menutup kelemahan arus kas adalah pilihan berisiko tinggi. Dunia usaha memang membutuhkan ruang bernapas jangka pendek, tetapi yang lebih penting adalah membangun fondasi keuangan yang cukup kuat untuk melangkah jauh ke depan.

Penulis: Bima Thoharoh, Mahasiswa S2 Magister Manajemen, Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Reporter / Edior : Favian Saputra