Daily Nusantara, Opini – Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar tren teknologi, melainkan telah menjelma menjadi “kebutuhan pokok” baru. Dari pelajar hingga praktisi profesional, hampir semua lini kehidupan mulai bersinggungan dengan algoritma cerdas ini. Tak terkecuali dalam dunia multimedia; kini ribuan foto, video, hingga animasi bisa tercipta hanya dalam hitungan detik melalui perintah teks.

Bagi sebagian orang, fenomena ini dianggap sebagai lonceng kematian bagi seniman digital. Logikanya sederhana: jika hanya dengan mengetik beberapa baris perintah (prompt), seseorang bisa menghasilkan visual sekelas produksi Hollywood, apakah keahlian teknis yang dipelajari bertahun-tahun masih relevan?

Namun, benarkah AI sehebat itu hingga bisa menggantikan peran otak dan rasa manusia seutuhnya? Di sinilah letak kesalahpahaman massal yang perlu kita luruskan. Sebagai pengajar di bidang multimedia, saya melihat AI bukanlah “pengganti” melainkan sebuah “akselerator”. Namun, ada syarat mutlak yang sering dilupakan: AI menuntut penggunanya untuk tetap memiliki fondasi keilmuan yang kuat.

Tanpa pemahaman dasar, seorang pengguna AI ibarat seseorang yang memegang kompas di tengah hutan, namun ia sendiri tidak tahu cara membaca arah mata angin. Ia akan bergerak cepat, tapi tersesat.

Bayangkan seseorang yang menggunakan aset visual hasil generatif AI untuk kebutuhan desain profesional. Tanpa pemahaman mendalam tentang teknik editing dasar di Photoshop, seperti masking, color grading, atau komposisi, pengguna hanya akan menjadi penonton dari hasil karya mesin. Mereka tidak akan mampu melakukan kurasi, apalagi menyempurnakan detail aset tersebut agar sesuai dengan kebutuhan komunikasi yang spesifik. Sebab cara kerja AI dengan cara memanggil dan mengolah basis data (data source) yang sudah ada.

Untuk ‘memanggil’ data yang tepat dan berkualitas, kita butuh pemahaman terhadap terminologi dan logika ilmu yang kita gunakan. Jika kita tidak tahu apa itu depth of field atau golden ratio dalam teori komunikasi visual, maka prompt yang kita berikan pada AI hanyalah sekadar tebak-tebakan, bukan sebuah karya yang terencana.

Oleh karena itu, bagi para calon desainer dan komunikator multimedia, jangan terburu-buru “membuang” buku teks atau mengabaikan mata kuliah dasar demi mengejar efisiensi AI. Justru di era ini, kemampuan memahami logika di balik tools menjadi pembeda antara seorang profesional dan amatir.

AI memang bisa menyediakan aset dalam sekejap, namun kemampuan kita untuk mengolah, mengkritisi, dan memastikan aset tersebut sesuai dengan etika serta tujuan komunikasi adalah sesuatu yang tidak dimiliki oleh algoritma. Kita tetap perlu belajar cara “memasak” secara manual sebelum memutuskan untuk menggunakan bumbu instan.

Pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan kreativitas manusia, melainkan manusia yang memahami dasar ilmu dan mampu menggunakan AI-lah yang akan menggantikan mereka yang hanya mengandalkan tombol instan. Teknologi boleh saja berlari secepat kilat, namun tanpa fondasi keilmuan yang kokoh, kita hanya akan menjadi operator mesin yang kehilangan arah.

Jangan sampai di balik megahnya visual yang dihasilkan AI, kita justru kehilangan esensi paling mendasar dalam multimedia: yaitu kecerdasan untuk menyampaikan makna yang jujur dan autentik.

Penulis : Dary Halim, Anim., M.IKom adalah Praktisi Multimedia Specialis, dan Dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang (Unpam). Penulis aktif mengamati perkembangan teknologi media baru dan dampaknya terhadap pendidikan komunikasi.