Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan sering kali mengalami konflik dengan saudara kandungnya, baik itu kakak atau adik. Perilaku ini biasanya terjadi akibat ketidakpuasan, rasa cemburu, atau kurangnya kemampuan untuk mengekspresikan perasaan secara sehat. Meskipun tidak selalu berujung pada tindakan fisik, kekerasan antar anak bisa menjadi masalah serius jika tidak segera ditangani. Dalam dunia parenting, penting bagi orang tua untuk memahami bagaimana cara menghadapi situasi seperti ini agar tidak memperparah konflik dan justru menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.

Konflik antar anak sering kali dimulai dari hal-hal kecil, seperti rebutan mainan, kesenangan yang sama, atau kebiasaan masing-masing. Ketika anak tidak mampu mengelola emosi mereka, tindakan agresif seperti memukul, mendorong, atau bahkan melontarkan kata-kata kasar bisa saja terjadi. Dalam beberapa kasus, perilaku ini bisa berkembang menjadi bullying, terutama jika tidak ada intervensi dari orang tua. Menurut penelitian yang diterbitkan oleh jurnal Pediatric pada Juli 2013, anak-anak yang sering menjadi korban bullying oleh saudara kandung memiliki risiko tinggi mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk stres, kecemasan, dan depresi.

Karena itu, para orang tua perlu sadar bahwa konflik antar anak bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Membiarkan anak berkelahi tanpa campur tangan bisa berdampak buruk pada perkembangan emosional dan sosial mereka. Orang tua harus aktif dalam mengajarkan nilai-nilai seperti empati, kerja sama, dan pengendalian diri. Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa anak merasa didengar dan dipahami, sehingga mereka tidak merasa perlu menyelesaikan masalah hanya melalui tindakan fisik.

Mengapa Anak Berkelahi?

Anak-anak berkelahi karena berbagai alasan, mulai dari kebutuhan akan perhatian hingga ketidakmampuan mengungkapkan perasaan. Pada usia muda, anak belum memiliki kemampuan verbal yang cukup untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan. Akibatnya, mereka cenderung menggunakan tindakan fisik sebagai bentuk ekspresi. Misalnya, saat adik merebut mainan kesayangan, anak bisa langsung memukul atau menangis tanpa memahami bahwa tindakan tersebut bisa menyakiti orang lain.

Selain itu, anak juga bisa belajar dari lingkungan sekitarnya. Jika orang tua sering menggunakan tindakan keras untuk mendisiplinkan anak, anak akan menganggap bahwa memukul adalah cara yang wajar untuk menyelesaikan masalah. Hal ini sangat berbahaya karena bisa membentuk pola pikir yang salah tentang hubungan antar manusia. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan contoh positif dan menghindari penerapan disiplin yang terlalu keras.

Sebuah studi dari Child Development pada tahun 2024 menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan komunikasi terbuka cenderung lebih mudah mengelola emosi mereka. Mereka juga lebih jarang melakukan tindakan agresif karena mereka sudah diajarkan untuk menyelesaikan masalah melalui dialog dan negosiasi.

Kapan Saatnya Orang Tua Turun Tangan?

Orang tua sering kali menganggap anak berkelahi sebagai hal yang wajar. Namun, jika konflik antar anak terjadi terus-menerus, ini bisa menjadi tanda bahwa ada masalah yang perlu segera diatasi. Menurut pakar psikologi anak, Dr. Lina Wijaya, jika anak berkelahi lebih dari dua kali dalam seminggu, maka orang tua perlu turun tangan. Ini bisa menjadi indikasi bahwa anak sedang mengalami kesulitan dalam mengelola emosi atau merasa tidak didengar.

Salah satu tanda bahwa anak berkelahi sudah menjadi masalah serius adalah ketika tindakan agresif berlangsung secara berulang dan tanpa ada upaya untuk menyelesaikan masalah secara damai. Jika anak mulai menyerang saudaranya secara intensif, misalnya dengan memukul atau melempar benda, ini bisa menjadi tanda awal dari bullying. Orang tua perlu waspada terhadap tanda-tanda ini dan segera mengambil langkah untuk menghentikan siklus konflik.

Selain itu, jika anak berkelahi hanya untuk menarik perhatian, ini juga menjadi tanda bahwa mereka merasa tidak diperhatikan. Dalam kasus ini, orang tua perlu meningkatkan kualitas waktu bersama dengan anak, bukan hanya sekadar hadir secara fisik. Dengan membangun ikatan yang kuat, anak akan lebih merasa aman dan tidak perlu menyelesaikan masalah hanya melalui tindakan fisik.

Cara Mengajarkan Anak untuk Berdamai

Salah satu cara efektif untuk mencegah anak berkelahi adalah dengan mengajarkan mereka cara bernegosiasi dan menyelesaikan masalah secara damai. Orang tua bisa mulai dengan mengajarkan anak untuk berbicara, bukan memukul. Misalnya, jika adik merebut mainan, anak bisa diajarkan untuk berkata, “Aku sedang main, tolong kembalikan.”

Selain itu, orang tua juga bisa mengajarkan anak untuk mengungkapkan perasaan mereka dengan cara yang sehat. Misalnya, jika anak marah karena adik merusak mainannya, orang tua bisa menyarankan mereka untuk menulis perasaan mereka atau mengungkapkannya melalui gambar. Dengan begitu, anak akan belajar bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan tindakan fisik.

Dalam praktiknya, banyak orang tua yang mengalami kesulitan dalam mengajarkan anak untuk berdamai. Salah satunya adalah ketika anak bungsu terbiasa menjadi pusat perhatian. Untuk mengatasinya, orang tua bisa memanfaatkan situasi seperti kunjungan keponakan ke rumah. Dengan adanya keponakan, anak bungsu akan belajar untuk berbagi dan menghargai persahabatan.

Menghindari Reaksi Panik

Saat anak berkelahi, reaksi orang tua bisa sangat memengaruhi suasana hati anak. Jika orang tua merespons dengan panik atau marah, anak akan merasa lebih tertekan dan mungkin akan menyalahkan saudaranya. Ini bisa memperburuk konflik dan membuat anak lebih sulit untuk belajar mengelola emosi.

Oleh karena itu, orang tua perlu tetap tenang dan tidak langsung memarahi anak. Sebaliknya, mereka bisa mengajak anak untuk duduk dan berbicara sambil menenangkan diri. Dengan cara ini, anak akan belajar bahwa emosi bisa dikendalikan dan tidak selalu harus diungkapkan dengan tindakan kasar.

Menurut penelitian dari Journal of Family Psychology pada tahun 2025, anak-anak yang dilatih untuk mengelola emosi dengan cara tenang dan sabar cenderung lebih sehat secara psikologis. Mereka juga lebih mampu membangun hubungan yang baik dengan saudara kandung dan teman-teman sebaya.

Tips untuk Orang Tua

  1. Ajarkan cara berbicara

    Ajarkan anak untuk menyampaikan perasaan mereka dengan kata-kata, bukan tindakan.

  2. Beri ruang untuk mengekspresikan emosi

    Bisa melalui menulis, melukis, atau berbicara dengan orang tua.

  3. Gunakan metode positif dalam pendidikan

    Hindari penggunaan kekerasan sebagai cara mendisiplinkan anak.

  4. Fokus pada komunikasi terbuka

    Luangkan waktu untuk berbicara dengan anak dan dengarkan keluh kesah mereka.

  5. Ajarkan nilai kerja sama dan berbagi

    Melalui aktivitas bersama, anak akan belajar untuk saling menghargai.

Dengan mengadopsi pendekatan ini, orang tua dapat membantu anak mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang sehat. Ini akan membantu anak tidak hanya menjaga hubungan yang baik dengan saudara kandung, tetapi juga dengan teman-teman dan orang-orang di sekitarnya.

Untuk informasi lebih lanjut tentang cara mendidik anak secara efektif, Anda bisa mengunjungi situs resmi theAsianparent Indonesia, yang menyediakan artikel dan panduan lengkap tentang parenting.