Daily Nusantara, Tangerang Selatan, 2026 — Gambar itu sangat familiar bagi siapa saja yang tumbuh di Indonesia: anak-anak dengan buku Iqra di tangan, berjalan atau diantar ke masjid atau mushola terdekat saat sore hari untuk mengaji.
Tradisi ini telah berlangsung selama generasi demi generasi, dan meski terlihat sederhana, dampaknya dalam membentuk hubungan seseorang dengan Al-Qur’an sepanjang hidupnya tidak bisa diremehkan. Penelitian tentang retensi hafalan dan pembiasaan ritual keagamaan menunjukkan bahwa yang dimulai pada usia dini, dengan pendekatan yang menyenangkan dan konsisten, memiliki daya lekat yang jauh lebih kuat dibandingkan yang dipelajari di usia dewasa.
Namun tidak semua program TPQ diciptakan sama. Ada perbedaan yang sangat signifikan antara program yang sekadar mengajarkan anak “membaca” tulisan Arab tanpa memahami makhraj dan tajwid yang benar, dengan program yang membangun fondasi tilawah yang kuat sejak awal. Kesalahan pelafalan yang tertanam sejak usia dini jauh lebih sulit dikoreksi kemudian, sementara kebenaran makhraj yang dibiasakan sejak kecil akan melekat tanpa perlu usaha ekstra.
Dua Kebutuhan yang Berbeda: TPQ vs TPI
Di kalangan masyarakat yang aktif dalam pendidikan Islam anak, ada pemahaman yang berkembang bahwa program mengaji sore hari sebenarnya mencakup dua kebutuhan yang perlu dibedakan. Yang pertama adalah kebutuhan tilawah — kemampuan membaca Al-Qur’an dengan makhraj dan tajwid yang benar, yang dituju oleh program Taman Pendidikan Qur’an (TPQ). Yang kedua adalah kebutuhan diniyah dasar — pemahaman tentang akidah, akhlak, fiqih ibadah, adab keseharian, sirah nabawiyah, dan dasar-dasar bahasa Arab, yang dituju oleh program Taman Pendidikan Islam (TPI).
Idealnya, kedua program ini berjalan beriringan. Anak yang hanya bisa membaca Al-Qur’an dengan lancar tanpa pemahaman dasar-dasar diniyah akan mengalami kesulitan membangun motivasi internal untuk menjaga dan mengembangkan tilawahnya di kemudian hari. Sebaliknya, anak yang memiliki pemahaman diniyah yang kuat namun tilawahnya lemah akan kesulitan merasakan kedekatan dengan sumber utama agamanya.
Program Rumah Huffadzh As Salim — Al Itsar
Rumah Huffadzh As Salim yang bernaung di bawah Al Itsar Islamic School di Pamulang menyelenggarakan kedua program ini secara terpisah dengan jadwal yang saling melengkapi. Program TPQ berlangsung setiap Senin dan Kamis pukul 16.00-17.00 WIB, berfokus pada penguatan makhraj huruf, tajwid, dan hafalan — dengan rujukan yang berlandaskan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pemahaman para Salafush Shalih. Program TPI berlangsung setiap Selasa dan Rabu pada waktu yang sama, mencakup akidah, akhlak, fiqih ibadah, adab, sirah, dan pengantar bahasa Arab, disertai muatan tahsin dan tahfidz.
Desain jadwal ini bukan kebetulan. Dengan memisahkan hari untuk TPQ dan TPI, keluarga yang mendaftarkan anak di kedua program sekaligus tetap memiliki satu hari bebas di pertengahan minggu — sehingga tidak memberatkan anak secara rutinitas, namun tetap memastikan kesinambungan belajar yang konsisten sepanjang pekan.
“Kami ingin anak-anak datang bukan karena kewajiban, tapi karena mereka merasakan manfaatnya sendiri. Ketika anak bisa melafazkan ayat dengan benar dan merasakan bedanya — ada kepuasan tersendiri yang mendorong mereka untuk terus belajar tanpa perlu dipaksa.” — Syifa Fauziah, Pengajar Al Itsar
Kedua program terbuka untuk anak usia dini di lingkungan Pamulang dan sekitarnya. Informasi pendaftaran dan jadwal dapat diperoleh melalui kontak 0895-3069-4319 atau formulir online di bit.ly/form_tpi. Lokasi program berada di Jl. Mawar 12 Blok D4 No.14, Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan.






