Pembulihan anak-anak di lingkungan sekolah merupakan isu yang sangat serius dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk orang tua, guru, dan institusi pendidikan. Salah satu kasus yang sempat menghebohkan masyarakat adalah kejadian bullying yang dilakukan oleh siswa SMP kepada siswa SD di Thamrin City, Jakarta Pusat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2017 dan masih menjadi topik yang relevan hingga saat ini, karena menunjukkan pentingnya pengawasan dan perlindungan terhadap anak-anak di lingkungan pendidikan.
Kasus ini dimulai ketika seorang siswa SD kelas VI dijambak dan disuruh bersujud oleh dua siswa SMPN 273 Jakarta. Video kekerasan tersebut viral di media sosial, khususnya melalui akun Instagram Gosip Lambe Turah. Dalam video berdurasi sekitar 50 detik, terlihat korban dikelilingi oleh beberapa anak lainnya, termasuk mereka yang menggunakan seragam merah putih, yang turut menyaksikan atau bahkan mendukung aksi bullying tersebut. Kejadian ini tidak hanya menyentuh hati para netizen, tetapi juga memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk lembaga pendidikan dan aparat kepolisian.
Setelah adanya laporan resmi, polisi langsung melakukan penyelidikan dan memanggil pelaku untuk diperiksa. Selain itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) juga turut menginvestigasi kasus ini. Akibat dari tindakan tersebut, sembilan pelaku yang terdiri dari siswa SD dan SMPN 273 Jakarta akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan KJP mereka dicabut. Meski demikian, kasus ini tetap menjadi peringatan bagi masyarakat bahwa pembulihan tidak boleh dibiarkan terjadi tanpa konsekuensi.
Apa Itu Bullying dan Mengapa Menjadi Masalah Serius?
Bullying adalah bentuk perilaku kekerasan atau penindasan yang dilakukan secara berulang oleh seseorang terhadap individu lain, biasanya dengan tujuan untuk merendahkan, menakuti, atau mempermalukan korban. Dalam konteks pendidikan, bullying sering terjadi antara siswa yang lebih kuat atau lebih tua terhadap yang lebih muda, seperti dalam kasus di Thamrin City.
Menurut data dari UNICEF (2024), sekitar 30% anak-anak di Indonesia pernah mengalami bullying selama masa sekolah. Hal ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang, seperti rasa takut, rendah diri, dan bahkan gangguan mental seperti depresi dan kecemasan. Dampak psikologis ini bisa terus berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan tepat.
Tidak hanya berdampak pada psikologi, bullying juga dapat mengganggu proses belajar dan perkembangan anak. Anak yang menjadi korban cenderung sulit berkonsentrasi, kurang percaya diri, dan bahkan menghindari sekolah. Ini bisa berdampak negatif terhadap prestasi akademik dan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Penyebab dan Faktor Risiko Bullying di Sekolah
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan bullying terjadi di lingkungan sekolah. Salah satunya adalah kurangnya pengawasan dari guru dan staf sekolah. Jika lingkungan sekolah tidak memiliki sistem pengawasan yang efektif, anak-anak mudah melakukan tindakan tidak sopan atau bahkan kekerasan tanpa ada yang menghentikannya.
Selain itu, faktor lingkungan keluarga juga bisa menjadi penyebab. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh kekerasan atau kurang perhatian dari orang tua cenderung lebih rentan melakukan tindakan agresif terhadap teman sebaya. Tidak hanya itu, kurangnya pemahaman tentang empati dan nilai-nilai sosial juga bisa menjadi penyebab utama bullying.
Dalam kasus di Thamrin City, pelaku diduga tidak menyadari bahwa tindakan mereka melanggar aturan dan norma sosial. Mereka mungkin hanya melihatnya sebagai “candaan” atau “main-main”, tanpa menyadari bahwa tindakan tersebut sangat merugikan korban.
Langkah Pencegahan dan Solusi untuk Mengatasi Bullying
Untuk mencegah bullying, diperlukan kerja sama antara orang tua, guru, dan pihak sekolah. Salah satu langkah penting adalah meningkatkan kesadaran akan pentingnya hubungan yang sehat antara siswa. Sekolah perlu memberikan edukasi tentang etika, empati, dan cara mengelola emosi kepada siswa.
Menurut penelitian dari Journal of Educational Psychology (2024), program anti-bullying yang terstruktur dan melibatkan seluruh komunitas sekolah dapat menurunkan tingkat bullying hingga 40%. Program ini bisa berupa workshop, seminar, atau even kreatif yang melibatkan siswa untuk saling memahami dan menghargai perbedaan.
Selain itu, orang tua juga perlu aktif dalam memantau aktivitas anak di sekolah. Jika ada indikasi bahwa anak sedang mengalami bullying, orang tua harus segera mengambil tindakan, seperti melaporkan ke pihak sekolah atau melibatkan pihak berwajib.
Tips untuk Anak yang Mengalami Bullying
Jika anak Anda menjadi korban bullying, berikut beberapa langkah yang bisa diambil:
– Ajak anak untuk berbicara: Bicarakan dengan tenang dan pastikan anak merasa didengar.
– Laporkan ke pihak sekolah: Segera laporkan ke guru atau kepala sekolah agar tindakan segera diambil.
– Cari bantuan profesional: Jika anak mengalami trauma, pertimbangkan untuk menghubungi psikolog atau konselor.
– Ajarkan cara membela diri: Ajarkan anak untuk tetap tenang dan tidak membalas dengan kekerasan.
Kesimpulan
Kasus bullying di Thamrin City pada tahun 2017 menjadi contoh nyata betapa pentingnya pengawasan dan edukasi terhadap anak-anak di lingkungan sekolah. Bullying bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga bisa berupa ejekan, ancaman, atau penindasan yang merusak mental korban.
Dengan peningkatan kesadaran, edukasi, dan kolaborasi antara orang tua, guru, dan pihak sekolah, kita bisa menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan sehat bagi semua anak. Semoga kasus-kasus seperti ini tidak lagi terjadi dan anak-anak bisa tumbuh dengan rasa percaya diri, damai, serta saling menghormati.






