Daily Nusantara, Makassar, 18 Desember 2025 – Ancaman kepunahan membayangi kerajinan tradisional Sulawesi Selatan, dari tenun sutra hingga ukiran kayu. Di tengah tekanan pasar modern dan minimnya regenerasi, para pengrajin tradisional dihadapkan pada pilihan yang terasa paradoks: bertahan dengan cara lama dan tergerus, atau terjun ke digital dengan risiko kehilangan identitas budaya. Isu genting inilah yang mendorong tim peneliti Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) YPUP Makassar untuk mengambil peran aktif.

Pilihan itu kini tidak lagi hitam putih. Sebuah dokumen kebijakan (policy brief) yang berisi peta jalan strategis telah diserahkan langsung oleh Ketua Tim Peneliti, Harry Yulianto, kepada Zulfikar Limolang, Ketua Fraksi Persatuan Kebangkitan Bangsa (FPKB) DPRD Provinsi Sulawesi Selatan pada Kamis (18/12/2025) di Kantor DPW PKB Sulawesi Selatan. Dokumen policy brief itu hadir sebagai jawaban atas kegelisahan tersebut, dengan judul yang provokatif sekaligus menawarkan solusi: “Transformasi Digital UMKM Kerajinan Tradisional Sulawesi Selatan: Strategi Hybrid Berbasis Kearifan Lokal.”

“Kami tidak lagi bicara akan punah, tapi sedang menuju kepunahan. Data UNESCO menunjukkan sekitar 30% kerajinan tradisional Indonesia berisiko hilang. Di Sulsel, regenerasi pengrajin muda sangat minim. Digitalisasi bukan sekadar opsi, tapi life support untuk menjaga nafas warisan budaya ini,” ungkap Harry Yulianto saat menyerahkan dokumen, dan menekankan urgensi dari rekomendasi yang disusunnya.

Namun, tim peneliti sangat menyadari bahwa digitalisasi tanpa kendali justru menjadi bumerang. “Tantangan terbesar bukan hanya kesenjangan infrastruktur internet di sentra kerajinan pedesaan. Yang lebih berbahaya adalah distorsi budaya. Jika motif passapu pada tenun hanya dianggap ‘corak menarik’ tanpa filosofinya, atau ukiran pa’tedong Toraja dijual sebagai dekorasi saja, maka kita sudah kehilangan jiwanya. Transformasi digital harus menjadi alat pelestarian, bukan perusak,” jelas Harry.

Oleh karena itu, inti dari peta jalan yang ditawarkan adalah pendekatan hybrid yang unik. “Kami menolak dikotomi antara tradisi dan modern. Rekomendasi kami justru memadukan keduanya secara sinergis,” ujar Harry. Kebijakan ini berporos pada empat pilar utama: (1) penguatan literasi digital yang justru berakar pada pemahaman filosofi budaya, (2) pemerataan infrastruktur digital inklusif hingga ke pelosok sentra kerajinan, (3) penerapan model kolaborasi Quintuple Helix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas adat, pelaku usaha, dan masyarakat sipil, serta (4) pengembangan platform digital lokal yang kaya narasi budaya.

Salah satu rekomendasi konkret yang mencolok adalah usulan pembentukan Sertifikasi “Budaya Digital Terverifikasi”. Sertifikasi ini akan diberikan kepada produk kerajinan yang dijual secara digital dengan syarat telah melalui validasi narasi budayanya oleh tetua adat setempat. Logo sertifikasi akan menjadi penanda keaslian dan penjaga nilai budaya di pasar digital yang luas. “Ini cara kami melindungi identitas sekaligus memberi nilai tambah ekonomi. Konsumen global semakin menghargai produk dengan backstory yang autentik,” tambah Harry.

Penerima dokumen policy brief, Zulfikar Limolang, Ketua FPKB DPRD Sulsel, menyambut baik inisiatif dan kedalaman analisis yang disajikan. “Policy brief ini sangat kaya kontekstual dan tepat waktu. Fraksi kami (PKB), memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan, akan menjadikan dokumen ini sebagai bahan pertimbangan strategis dalam fungsi legislasi dan pengawasan kami. Rekomendasi tentang model Quintuple Helix dan platform digital lokal sangat menarik untuk didorong menjadi program prioritas daerah,” ujarnya.

Diharapkan, roadmap yang disusun berdasarkan kajian akademis mendalam ini dapat segera diterjemahkan menjadi kebijakan konkret dan program anggaran yang efektif. Langkah selanjutnya adalah mendorong diskusi terfokus antara tim peneliti dan legislator untuk pendalaman substansi, tambah Zulfikar.

“Saatnya kita ubah narasi. Digitalisasi bukan ancaman, tapi senjata ampuh untuk memenangkan pertarungan melawan kepunahan. Dengan strategi yang tepat, setiap klik dan scroll di dunia digital justru bisa menjadi aksi nyata untuk melestarikan warisan leluhur kita,” pungkas Harry, mengakhiri penyerahan yang berpotensi menjadi titik balik bagi masa depan kerajinan tradisional Sulawesi Selatan.