Tajhin Sorah merupakan salah satu tradisi yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Madura. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan kegiatan makan bersama, tetapi juga sarat dengan nilai spiritual, sosial, dan budaya. Setiap kali bulan Muharram tiba, masyarakat Madura dengan penuh suka cita melaksanakan Tajhin Sorah sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus ajang mempererat hubungan persaudaraan.

Dalam sejarahnya, Tajhin Sorah diyakini telah ada sejak masa para nabi. Ada yang mengaitkannya dengan Nabi Nuh AS, ada pula yang menghubungkannya dengan Nabi Muhammad SAW. Terlepas dari perbedaan pandangan itu, yang jelas tradisi ini telah diwariskan turun-temurun dan dianggap sebagai amalan baik yang perlu terus dilestarikan.

Tradisi ini biasanya dimulai dengan doa bersama, tahlilan, hingga pembacaan kalimat dzikir untuk mengingat Allah SWT. Setelah itu, hidangan Tajhin Sorah disajikan kepada semua yang hadir. Suasana kebersamaan, syukur, dan silaturahmi menjadi ciri khas pelaksanaannya. Karena itulah Tajhin Sorah bukan sekadar acara makan, melainkan sebuah peristiwa religius yang penuh makna.

Dengan demikian, Tajhin Sorah layak dipandang bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa masyarakat Madura sangat menjaga kelestarian tradisi ini dan mengajarkannya dari generasi ke generasi.

Sejarah Tajhin Sorah

Asal-usul Tajhin Sorah memiliki beragam versi. Pendapat yang paling banyak diyakini adalah bahwa tradisi ini bermula sejak zaman Nabi Nuh AS. Saat banjir besar melanda dan umat Nabi Nuh selamat, mereka mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang ada. Bahan-bahan tersebut kemudian dimasak bersama dan dimakan dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT yang telah menyelamatkan mereka dari bencana besar.

Ada pula yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga melaksanakan tradisi serupa ketika menyambut bulan Muharram. Beliau menganjurkan untuk memasak dari bahan apa saja yang ada di rumah, kemudian dimakan bersama sebagai tanda rasa syukur. Dari sinilah kemudian tradisi itu menyebar ke berbagai daerah, termasuk Madura, dan dikenal dengan sebutan Tajhin Sorah.

Jasa Stiker Kaca

Nama “Sorah” sendiri merujuk pada bulan Muharram yang dalam dialek Madura disebut bulan Sorah. Karena itu, setiap kali Muharram tiba, masyarakat Madura selalu mengadakan acara ini sebagai peringatan, rasa syukur, dan momentum mempererat tali persaudaraan.

Jasa Backlink

Filosofi Tajhin Sorah

Di balik sederhana dan sederhananya bahan yang digunakan, Tajhin Sorah menyimpan makna yang dalam. Filosofi utamanya adalah rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang diberikan, sekecil apa pun nikmat itu. Mengolah sisa bahan makanan menjadi hidangan lezat adalah simbol bahwa manusia hendaknya selalu menghargai rezeki dan tidak pernah menyia-nyiakan anugerah Allah.

Selain itu, tradisi ini juga mengajarkan kebersamaan. Proses memasak, berdoa, hingga menyantap makanan dilakukan secara kolektif, sehingga tercipta suasana saling mendukung dan mempererat ikatan sosial. Tradisi ini juga menanamkan nilai sedekah, karena setiap keluarga biasanya akan berbagi Tajhin Sorah dengan tetangga atau kerabat.

Dalam konteks modern, Tajhin Sorah juga bisa dipandang sebagai bentuk edukasi lingkungan, yakni memanfaatkan apa yang ada tanpa membuangnya. Dari sini, kita belajar bahwa sesuatu yang sederhana pun bisa membawa manfaat besar ketika dikelola dengan rasa syukur dan kebersamaan.

Prosesi Pelaksanaan

Pelaksanaan Tajhin Sorah biasanya dilakukan di pesantren, musalla, atau rumah-rumah masyarakat. Prosesi diawali dengan pembacaan tahlil yang diikuti seluruh jamaah. Tahlil berisi doa-doa, bacaan dzikir, dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, doa penutup dipanjatkan agar acara diberkahi Allah SWT.

Barulah kemudian makanan disajikan. Hidangan Tajhin Sorah umumnya berupa bubur atau masakan dari campuran berbagai bahan sederhana, mulai dari beras, sayuran, hingga lauk seadanya. Semua orang yang hadir akan makan bersama, tanpa membeda-bedakan status sosial.

Menariknya, di pesantren biasanya seluruh keluarga besar, santri, dan guru ikut serta dalam pembuatan hidangan. Sementara itu, di pedesaan, masyarakat memasak di rumah masing-masing lalu membagikannya kepada tetangga. Tradisi berbagi inilah yang membuat Tajhin Sorah semakin bermakna.

Nilai Sosial dan Spiritual

Bagi masyarakat Madura, Tajhin Sorah bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sebuah sarana mempererat hubungan sosial. Nilai persaudaraan (ukhuwah) sangat terasa, baik ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) maupun ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa).

Secara spiritual, tradisi ini mengingatkan umat untuk selalu bersyukur dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bacaan doa dan dzikir yang mengiringi acara menjadi penguat keimanan sekaligus sarana memperbaiki hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Dari segi sosial, tradisi ini mengajarkan pentingnya berbagi rezeki. Masyarakat yang membuat Tajhin Sorah akan mendistribusikannya ke tetangga sebagai bentuk kepedulian. Dengan begitu, tidak ada yang merasa ditinggalkan, karena semua orang bisa merasakan kebersamaan dan kenikmatan hidangan tersebut.

Relevansi di Zaman Modern

Meski sebagian orang menganggap tradisi seperti ini tidak ada tuntunannya secara langsung dalam syariat, namun Tajhin Sorah dapat dikategorikan sebagai bid’ah hasanah atau hal baru yang bernilai baik. Mengapa demikian? Karena tradisi ini mengandung banyak kebaikan, baik dari sisi ibadah, sosial, maupun budaya.

Di era modern, tradisi ini tetap relevan karena mampu menjaga nilai-nilai kebersamaan yang semakin tergerus oleh individualisme. Tajhin Sorah juga bisa dijadikan sarana dakwah budaya, yakni mengajarkan Islam dengan pendekatan tradisi lokal yang penuh nilai positif.

Pentingnya Melestarikan Tajhin Sorah

Melestarikan Tajhin Sorah sama artinya dengan menjaga warisan leluhur sekaligus menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, melainkan tentang bagaimana masyarakat membangun solidaritas, kepedulian, dan rasa syukur bersama.

Jika tradisi ini ditinggalkan, bukan hanya budaya yang hilang, tetapi juga nilai kebersamaan dan gotong royong yang selama ini menjadi ciri khas masyarakat Madura. Oleh karena itu, generasi muda perlu dikenalkan dengan Tajhin Sorah agar bisa terus melestarikannya di masa depan.

Tajhin Sorah adalah tradisi yang menggabungkan nilai spiritual, sosial, dan budaya dalam satu kegiatan sederhana. Berawal dari sejarah panjang sejak masa para nabi, tradisi ini kini menjadi identitas masyarakat Madura yang selalu merayakannya di bulan Muharram.

Nilai kebersamaan, rasa syukur, kepedulian, serta ukhuwah yang lahir dari Tajhin Sorah membuatnya sangat layak dilestarikan. Tradisi ini bukan hanya tentang makanan, tetapi tentang menjaga ikatan antar manusia dan hubungan dengan Allah SWT.

Dengan segala nilai positif yang dikandungnya, Tajhin Sorah akan selalu menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Madura, dari masa lalu, kini, hingga masa depan.