Daily Nusantara, Barito Kuala, 9 Juli 2025 — Dalam upaya menurunkan angka komplikasi kehamilan dan persalinan serta meningkatkan kesadaran keluarga dalam pendampingan terhadap ibu hamil, mahasiswi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan Kelas Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Kabupaten Barito Kuala menghadirkan inovasi bertajuk “KITA MESRA” atau Kelas Ibu merTuA untuk MEningkatkan SadaR pendampingan kehamilan dan persalinAn. Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Rantau Badauh, tepatnya di Desa Danda Jaya, Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.
Program inovatif ini digagas oleh Kelompok 3 mahasiswa angkatan 2024/2025 yang terdiri dari Dewi Hartati, Hayatun Ni’mah, Leny Lespitawaty, Milawati, Norhasnah, Nyimas, Pusvita Dewi, Rina Juniarti, Rabiah, Sugi Hartati, dan Sulis Rimawati. Mereka menjalankan kegiatan ini di bawah bimbingan dosen pembimbing akademik Ibu Nur Rohmah Prihatanti, SST., M.Keb. dan Ibu Efi Kristiana, SST., M.Kes., serta pembimbing lapangan Ibu Meldawaty, AM.Keb. yang turut didampingi oleh Ibu Yasna Tri Yana, AM.Keb., bidan desa di Danda Jaya.
Latar belakang utama dari munculnya inovasi “KITA MESRA” adalah keprihatinan terhadap tingginya angka komplikasi kehamilan dan persalinan yang masih terjadi di masyarakat, serta rendahnya kesadaran keluarga dalam memberikan pendampingan selama proses kehamilan. Secara khusus, peran ibu mertua sering kali hanya sebatas pengamat atau penjaga rumah tangga. Melalui program ini, peran tradisional tersebut diubah menjadi peran yang lebih aktif, edukatif, dan solutif dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi.
Para ibu mertua menjadi sasaran utama dalam kelas ini, di mana mereka dilibatkan secara langsung untuk mendapatkan pelatihan dan edukasi seputar kehamilan, persalinan, hingga perawatan pascapersalinan. Kegiatan pembelajaran meliputi pelatihan keterampilan seperti pijat oksitosin yang bertujuan mempercepat proses persalinan, meningkatkan kenyamanan ibu, serta merangsang produksi ASI. Selain itu, mereka juga diberikan pelatihan perawatan bayi baru lahir (BBL), agar mampu memberikan dukungan optimal setelah persalinan terjadi di lingkungan keluarga.
Selain keterampilan praktis, kelas “KITA MESRA” juga memberikan edukasi kritis mengenai berbagai tanda bahaya yang harus diwaspadai oleh anggota keluarga, khususnya ibu mertua. Mereka dibekali pengetahuan mengenai tanda-tanda bahaya pada ibu hamil seperti perdarahan dari jalan lahir, sakit kepala hebat yang disertai pandangan kabur, pembengkakan mendadak pada tangan, wajah, atau kaki, gerakan janin yang berkurang atau tidak terasa, serta demam tinggi dan nyeri perut yang hebat. Tak hanya itu, para peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanda bahaya saat persalinan, seperti ketuban pecah dini tanpa kontraksi, persalinan yang berlangsung terlalu lama, perdarahan hebat, kejang, dan posisi janin yang tidak normal.
Lebih lanjut, edukasi juga mencakup tanda bahaya pada masa nifas seperti perdarahan yang banyak dan berulang, bau tidak sedap dari jalan lahir, demam tinggi, nyeri perut bawah yang terus-menerus, serta pembengkakan dan nyeri pada payudara. Sementara itu, untuk bayi baru lahir, tanda bahaya yang diajarkan antara lain tidak mau menyusu, napas cepat atau tersengal, tubuh lemas atau kaku, kulit dan mata menguning, hingga kejang atau demam. Dengan pemahaman yang komprehensif ini, diharapkan para ibu mertua mampu menjadi “mata pertama” dalam mendeteksi kondisi darurat dan segera merujuk ibu hamil atau bayi ke fasilitas kesehatan yang tepat.
Sebagai bentuk kesungguhan dan komitmen terhadap program ini, kegiatan ditutup dengan penandatanganan “KOMITMEN MESRA” oleh para ibu mertua. Komitmen ini merupakan pernyataan dukungan mereka dalam mendampingi proses kehamilan, persalinan, hingga perawatan pascapersalinan dengan sepenuh hati. Ini bukan hanya sekadar simbolis, tetapi juga bentuk nyata dari kesadaran baru bahwa keluarga, terutama ibu mertua, memegang peran penting dalam menjaga keselamatan ibu dan bayi.
Inovasi “KITA MESRA” membuktikan bahwa pemberdayaan keluarga melalui edukasi bisa menjadi strategi efektif untuk menekan risiko komplikasi pada ibu hamil dan bayi. Dengan pendekatan yang komunikatif dan empatik, program ini mengakar kuat di masyarakat dan mampu menggerakkan perubahan perilaku secara kolektif. Mahasiswi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin yang terlibat menunjukkan bahwa solusi atas permasalahan kesehatan ibu dan anak tidak harus selalu berasal dari institusi besar, melainkan bisa lahir dari semangat pengabdian, kemauan belajar, dan kepedulian terhadap komunitas lokal.
Salah satu anggota tim menyampaikan, “Kami ingin ibu mertua tidak hanya menjadi penjaga rumah tangga, tapi juga penjaga kehidupan generasi berikutnya.” Ungkapan ini menggambarkan semangat utama dari inovasi KITA MESRA: menguatkan peran keluarga demi menciptakan generasi yang sehat dan kuat. Melalui sinergi mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat, program ini membawa harapan baru bagi keluarga-keluarga di Barito Kuala dan sekitarnya.
Dengan semangat kolaborasi dan pemberdayaan, “KITA MESRA” menjadi contoh nyata bahwa keselamatan ibu dan bayi adalah tanggung jawab bersama. Mari wujudkan keluarga siaga, karena ketika keluarga teredukasi dan peduli, maka keselamatan ibu dan bayi pun lebih terjamin.